Berita Pangandaran (harapanrakyat.com),- Karang Taruna Desa dan masyarakat Dusun Parapat, RT 4, 5, 6 RW 7 dan RW 9, Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menggulirkan program penanaman satu rumah satu pohon dengan konsep Demonstrasi usaha tani perorangan (Demplot) agrowisata dengan menanam kelengkeng, jambu jamaika dan alpukat. Penanaman tersebut sebagai upaya menciptakan paru-paru di tengah perkotaan Pangandaran.
Plt Kepala Desa Pangandaran, Sarino, mengatakan, dasar program demplot agrowisata tersebut karena kondisi udara yang semakin panas, pepohonan semakin langka akibat penebangan serta beralih fungsi ke pemukiman serta serapan air yang mengalami penurunan. Melalui konsep tersebut, diharapkan dalam waktu 3 tahun ke depan sudah bisa dirasakan manfaatnya dan bisa dijadinakan lokasi wisata baru.
“Kita sudah siapkan anggaran pengelolaan 1 rumah 1 pohon. Nantinya pada tahun 2019 kita anggarkan dari APBDes sebesar Rp 50 juta dengan harapan terus berlanjut hingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya secara ekonomi,” jelasnya kepada Koran HR, Selasa (27/11/2018).
Penyuluh kehutanan Cabang Dinas Kehutanan (CBK) wilayah 7 Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Karso, mengatakan, pihaknya turut serta mendukung dan membantu sebanyak 800 pohon untuk desa Pangandaran yang mana bisa untuk ditanam di lahan sekitar luas 10 hektar.
“Menjadi paru-paru di daerah perkotaan Pangandaran itu sangat penting. Program ini diharapkan berkesinambungan dan dalam waktu 3 tahun ke depan diharapkan sudah bisa dipanen,” katanya.
Karso menuturkan, pihaknya juga melakukan penanaman di Desa Pagergunung sebanyak 1200 pohon dengan jenis buah buahan di daerah resapan mata air, seperti muncang, picung serta kawung.
“Program hari menanam sudah dilakukan di wilayah Pangandaran sebagai daerah penyangga paru-parunya wilayah obwis Pantai Pangandaran. Daerah penyangga di Pangandaran ada 3, yakni di Pagergunung, Pubahayu, dan Desa Sukahurip. Kita komitmen membantu di luar kawasan Perhutani dengan penanaman di sumber mata air,” jelas Karso lagi.
Karso menambahkan, melalui penanaman tersebut diharapkan bisa terwujudkan hutan kota sebagai penyangga atau resapan air, seperti pohon caringin, golodokan tiang, mahoni, akasia. Selain itu, program penanaman ini juga bisa menjadi wahana edukasi bagi anak-anak sekolah.
“Sebagaimana peraturan pemerintah nomor 63 tahun 2002 tentang hutan kota, perlu diupayakan minimal seluas 0,25 hektar sebagai resapan air. Dari program yang dilakukan Desa Pangandaran ini, tentunya kita sangat apresiasi untuk melangkah itu,” pungkas Karso. (Mad/Koran HR)