Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Puluhan pemuda dan mahasiswa di Pangandaran menggelar aksi bersih-bersih di Pantai Pasir Putih dan kawasan Cagar Alam Pangandaran. Aksi peduli lingkungan tersebut sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi lingkungan wisata yang mana tercemar oleh sampah plastik.
Koordinator aksi yang juga mahasiswa di PSDKU Unpad Pangandaran, Silvi Qorina Larasari, mengatakan, sampah yang ditemukan di lokasi sangat beragam. Namun, sampah tersebut didominasi sampah plastik, botol minuman, serta lainnya.
“Kita tahu sendiri jika sampah jenis non organik ini sangat lama hancurnya, berbeda dengan jenis organik. Sementara itu, jika sampah dibuang sembarangan akan berdampak pencemaran air, terutama jika di laut akan mengganggu ekosistem laut, bahkan paling parah menimbulkan kematian hewan laut. Maka dari keprihatinan itu, kita menggelar aksi ini,” kata Silvi, Minggu (02/12/2018) lalu.
Silvi prihatin, meskipun fasilitas tempat sampah sudah disediakan oleh pihak pengelola Cagar Alam, namun kesadaran pengunjung masih saja sangat kurang perhatian terhadap lingkungan.
“Saya harap dengan adanya ini, mulai dari anak-anak, remaja, pemuda hingga yang sudah dewasa harus mulai peduli terhadap lingkungan. Kemudian, untuk wisatawan juga diharapkan untuk bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak buang sampah sembarangan, apalagi di lokasi wisata,” pungkasnya.
Pengolahan Sampah di Kawasan Wisata
Kasi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Pangandaran, Abay Bayanulloh, mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi dan pelatihan mengelola sampah di kawasan wisata Pantai, baik sampah organik maupun an organik. Dalam pelatihan tersebut, melibatkan berbagai pihak.
“Tempat pengelolaan sampah organik dan an organik yang berasal dari wilayah kawasan wisata pantai lokasinya berada di Dusun Desa, Blok Japuh, Desa Cikembulan, Kecamatan Sidamulih. Kami kami sudah menyiapkan petugas untuk mengangkut dari sumber sampah sampai ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST),” kata Abay kepada Koran HR, Selasa (04/12/2018).
Abay berharap, masyarakat bisa mengetahui dan sadar bahwa sampah dapat berguna lagi untuk kehidupan setelah diolah TPST. Pengelolaan tersebut sebagai langkah untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Untuk sampah plastik ada mesin pengolahnya, mulai dari plastik keras sampai plastik kresek. Kami tidak akan membuang sampah dulu sebelum diolah. Ini agar menghasilkan berbagai produk hasil pengolahan sampah, seperti pupuk organik padat, pupuk organik cair, gas, briket, sumber tenaga listrik, bahan bakar solar. Ke depan, diharapakan Pemda bisa membangun TPST di desa lain agar timbunan sampah yang masuk ke TPA berkurang,” pungkasnya. (Mad/Koran HR)