Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Puluhan masyarakat Kota Banjar dari berbagai elemen sosialisasi penyedia peningkatan kapasitas teknis desa (P2KTD) dan rakor tim inovasi kota yang berlangsung di salah satu aula rumah makan di Banjar. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut, yakni Kamis-Jum’at, 11-12 Oktober 2018 ini diikuti oleh 73 orang unsur akademisi, TPID, tokoh masyarakat, anggota TIK, pendamping desa, OPD serta LSM.
Agus Harianto, Koordinator Tenaga Ahli Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA P3MD) Kota Banjar, menjelaskan, program inovasi desa merupakan program dari Kemendesa untuk memaksimalkan anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah ke desa sejak tahun 2015.
Berdasarkan laporan ke Kementrian Desa, jelas Agus Harianto, 93 persen sejak tahun 2015 sampai 2018 desa menggunakan DD dipakai infrastruktur. Padahal, misi dari UU Desa itu sendiri adalah mewujudkan desa yang mandiri melalui pemberdayaan masyarakat.
“Maka dari itu, setelah DD dipakai infrastruktur, tinggal bagaimana dana desa itu bisa digunakan untuk mewujudkan visi dari UU Desa, yakni menjadi desa yang mandiri. Dengan turunnya program inovasi ini dari kementrian, dimaksudkan untuk potensi desa yang sudah ada yang sebenarnya sudah inovatif, hanya saja belum terpublikasikan,” jelasnya kepada HR Online di sela-sela kegiatan.
Untuk mengawal program ini, Agus menambahkan, dibentuklah Tim Inovasi Kota (TIK) yang dibantu secara teknis di lapangan oleh Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) yang jumlahnya di tiap kecamatan sebanyak 7 orang.
“Nah, tugas mereka itu bagaimana memaksimalkan potensi yang ada di desa, baik dengan program inovasi yang sudah ada di desa itu sendiri maupun diambil juga referensinya dari OPD yang bisa dijalankan oleh desa. Sebenarnya program ini sudah ada sejak tahun 2017, namun baru dilaksanakan tahun 2018. Mudah-mudahan saja dengan adanya inovasi desa ini amanat dari UU Desa di Banjar bisa berjalan sesuai harapan,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, Sahudi, Kepala PMD-KesbangPol Kota Banjar, mengatakan, pengembangan masing-masing desa yang ada di Kota Banjar dapat dilakukan dengan melihat tipologi desa itu sendiri, seperti desa yang didominasi lahan pertanian secara otomatis pengembangan inovasi di wilayah tersebut dalam bidang pertanian.
“Jadi, pengembangan desa itu oleh masyarakat sendiri sesuai dengan tipologinya itu. Jika sudah tahu karakter desanya, tinggal cari siapa yang ahli untuk mengembangkan potensi yang ada. Misalnya desa pertanian, tentu saja cari ahli pertanian agar semakin maju. Jika desa itu potensinya bidang pariwisata, tinggal cari saja ahli bidang pariwisata untuk mendesain supaya desa tersebut lebih maju pariwisatanya,” jelas Sahudi.
Menurutnya, di Kota Banjar sendiri semua desa yang ada memiliki potensi masing-masing yang bisa untuk dikembangkan oleh pemerintah desa maupun oleh masyarakatnya. Ia yakin, ketika potensi desa digali lebih jauh dengan melibatkan semua elemen yang ada, desa di Banjar akan bisa mandiri.
“Kalau di Banjar itu tinggal proses penggalian potensinya saja. Apalagi sekarang ada TPID yang bergerak membantu dalam hal inovasi desa, tentu saja ini sangat baik sekali untuk kemajuan desa,” pungkasnya.
Dari informasi yang dihimpun, dalam sosialisasi tersebut, hadir sebagai pemateri Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jabar, Agus Hanafi, Kepala PMD-KesbangPol Kota Banjar, Sahudi, serta pemateri lainnya dari Pemkot Banjar. (Muhafid/R6/HR-Online)