Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy terus mengalami abrasi. Sungai sepanjang 178 kilometer yang berhulu di Jawa Barat dan bermuara di Jawa Tengah itu, kini kondisinya cukup memprihatinkan. Bukan hanya menjadi penyebab banjir di berbagai lokasi, tapi juga menimbulkan lahan di sekitar areal sungai terkisis dan bantaran Citanduy semakin habis.
Kondisi bantaran sungai yang mengalami abrasi pun menjadi kekhawatiran warga di daerah yang dilintasi, salah satunya di Kota Banjar. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena musim penghujan sebentar lagi tiba, bisa jadi kondisi sungai yang saat ini sudah cukup lebar akan lebih melebar lagi.
Heri, salah seorang warga Banjar, mengatakan, abrasi Sungai Citanduy disebabkan oleh adanya aktivitas penambangan pasir yang terus berlanjut. Meskipun aktivitas tersebut menjadi salah satu mata pencaharian warga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun dampak buruknya justru lebih besar dan melibatkan banyak orang.
“Penambangan pasir masih cukup banyak di wilayah Sungai Citanduy. Padahal, di beberapa lokasi pernah terjadi konflik karena menjadi pemicu pengikisan tanah hingga lahan milik warga pun terkena. Maka dari itu, perlu adanya kesadaran bersama agar sungai yang ada tidak menjadi ancama bagi kita,” katanya, kepada Koran HR, Senin (25/09/2018).
Menurut Heri, selain adanya aktivitas penambangan pasir, perilaku pembuangan sampah ke DAS Citanduy juga menjadi salah satu pemicu terjadinya pengikisan tanah bantaran Citanduy. Sampah-sampah yang tersangkut itu menyebabkan air tertahan dan menggerus tanah yang ada di sekitarnya.
“Saya kira, ketika proses penyadaran kepada masyarakat hanya dilaksanakan pada peringatan hari-hari besar, seperti hari air, hari bumi, ataupun hari lainnya belum cukup. Pasalnya, kebiasaan membuang sampah di sungai seolah sudah menjadi hal yang sulit dibendung dan butuh gerakan kolektif berkelanjutan dari semua pihak, baik pemerintah, dinas terkait, stakeholder maupun masyarakat itu sendiri,” tandas Heri.
Hal senada juga diungkapkan Asep, warga Banjar lainnya. Dia menilai, kebiasaan-kebiasan buruk yang berdampak terhadap tidak stabilnya kondisi alam, harus menjadi perhatian bersama. Seperti penggundulan hutan, membuang sampah sembarangan, pemanfaatan bantaran sungai, maupun aktifitas penambangan pasir dan lainnya.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut menyebabkan di sejumlah wilayah sering terjadi banjir, longsor maupun retakan tanah. Atas kondisi itulah, lanjut Asep, warga hanya berharap ada perhatian dari pihak-pihak terkait agar segala kemungkinan yang berkaitan dengan bencana alam, dapat diantisipasi. Terutama yang bersumber dari Sungai Citanduy.
“Ketika kita bersama-sama memiliki tekad untuk menjaganya, maka ke depannya kejadian seperti bencana bisa diminimalisir, dan kerugian akibat bencana pun bisa berkurang,” kata Asep. (Muhafid/Koran HR)