Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Anak sebagai korban kekerasan merupakan fenomena yang kerap terjadi, tak terkecuali di Kota Banjar, sudah banyak kasus tersebut terjadi. Sebagai bentuk keprihatinan, siswa SMA Negeri 2 Banjar mengkampanyaken anti kekerasan anak dengan memasang sejumlah poster di dinding pagar pembatas lapang outdoor milik sekolahnya, Senin (17/09/2018).
Pantauan Koran HR di lokasi, sejumlah poster dengan berbagai tulisan yang berisikan pesan, maupun komposisi gambar yang mengandung arti anti kekerasan anak yang dipasang itu merupakan hasil karya para siswa SMAN 2 Banjar, dan sedang dinilai oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banjar.
Penilaian itu dilakukan setelah sebelumnya digelar lomba desain poster dengan tema Non-Violent Communication (Komunikasi Tanpa Kekerasan), yang diprakarsai oleh Palang Merah Remaja SMAN 2 Banjar (pmrsmandaban), bekerjasama dengan PMI Kota Banjar.
“Dalam lomba desain poster anti kekerasan terhadap anak ini, setiap kelas harus membuat karyanya. Inovasi ini merupakan kegiatan eskul PMR SMAN 2 Kota Banjar,” kata Kepala SMAN 2 Kota Banjar, Barnas, saat ditemui Kotan HR, di ruang kerjanya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, lomba tersebut juga bagian dari mengkampanyekan anti kekerasan terhadap anak, dan tentunya sebagai bentuk aksi peduli para siswa SMAN 2 Kota Banjar untuk mendukung komunikasi tanpa kekerasan. Baik kekerasan verbal maupun non verbal.
“Yang jelas, ini bagian upaya kami untuk selalu menyayangi dan ramah terhadap siswa. Juga terpenting berbagai pihak lebih serius dalam penanganan kasus kekerasan anak yang masih cukup tinggi,” ujarnya.
Barnas berharap lomba yang dilakukan eskul PMR di sekolahnya ini mampu merangsang pemerinta kota dan DPRD Kota Banjar, agar serius dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak.
Sementara itu, pembina PMR SMAN 2 Kota Banjar, Siti Maryam, menambahkan, lomba yang dilakukan anak eskul PMR ini merupakan kegiatan positif untuk mengajak teman-teman sekolahnya menolak kekerasan terhadap anak.
“Ini aksi peduli warga SMAN 2 Banjar, dan ini sebagai bentuk penolakan serta perlawanan terhadap kekerasan anak,” tandasnya.
Lanjut Siti, pada tanggal 9 September lalu, eskul PMR di sekolahnya juga menjalin persahabatan melalui latihan gabungan dengan PMR sekolah lain yang ada di wilayah Kecamatan Langensari.
Adapun aktivitas yang dimainkan dalam latihan gabungan itu salah satunya adalah “Tell me about it” yang mengembangkan aktif listening, serta komunikasi tanpa kekerasan.
“Selain itu, juga diajarkan aktivitas ‘Labelled’ yang mengembangkan critical thinking serta sikap non-judgement pada orang di sekitar kita, dan berpikir positif,” tandas Siti. (Nanks/Koran HR)