Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Negara Indonesia dikenal memiliki kekayaan yang sangat luar biasa, terutama biota lautnya. salah satu spesies Ikonik yang sering ditemukan di laut Indonesia di antaranya penyu. Namun sayang sekali hewan tersebut masuk dalam kategori makhluk purba yang keberadaannya hampir punah.
Seperti halnya keberadaan penyu yang berada di jalur Pantai Batu Hiu Pangandaran juga terancam punah.
Menurut salah satu pelestari dan juga penangkar penyu, Didin Saepudin, bahwa penyu terancam punah diakibatkan oleh berbagai faktor, seperti halnya banyak penyu yang mati akibat keracunan, akibat pancing rawe senggol ataupun akibat abrasi pesisir pantai.
“Penyu yang mati akibat keracunan biasanya diakibatkan oleh pencemaran air laut yang mana disebabkan bahan bakar kapal yang tumpah ke laut. Sementara untuk faktor penggunaan pancing rawe senggol yang sering digunakan oleh para nelayan penyu itu nyangkut ke pancing tersebut,” jelasnya.
Sementara faktor abrasi pantai, lanjut Didin, membuat penyu enggan menepi ke laut. Sehingga penyu pun susah berkembang biak.
Didin menambahkan, bahwa di sekitaran laut Batu Hiu sedikitnya terdapat 5 jenis penyu, seperti penyu hijau, penyu lekang, penyu sisik, penyu tempaya,n maupun penyu pipih. Meskipun ada 5 jenis, namun dirinya hanya menangkar tiga jenis penyu saja.
Sementara untuk pengelolaan penyu, kata Didin, membutuhkan waktu sekitar 52 hari melalui proses inkubasi yang mana caranya dengan mengubur telur penyu di sebuah wadah yang berisi pasir. Jika sudah menetas, terang Didin, maka untuk proses pembesarannya bisa mencapai waktu sekitar 7 bulan.
“Penyu sekali bertelur biasanya mencapai 120 butir. Dan dari 120 tersebut, hanya 100 saja yang layak dibesarkan dan setelah berumur 7 bulan baru bisa dilepasliarkan ke laut,” ujarnya.
Didin mengaku, dirinya menangkar penyu sudah sejak daun 1983. Sementara pendirian kelompok penangkaran penyu dimulais sejak tahun 2003 yang berlokasi di pesisir Pantai Batu Hiu. Lantaran lokasi penangkaran penyu miliknya itu hancur saat terkena musibah tsunami, dia pun kembali mendirikan penangkaran di samping rumahnya sejak tahun 2007 hingga saat ini.
“Saya memang sudah niat untuk mengelola dan menangkar penyu, karena saya merasa prihatin dengan kondisi penyu yang sudah terancam punah. Padahal keberadaan penyu itu sangat penting sekali bagi makhluk hidup, termasuk manusia,” pungkasnya. (Ceng2/R6/HR-Online)