Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Sebuah mata air yang terletak di Dusun Cijurey, RT. 01, RW. 04, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, menjadi sumber air bagi masyarakat Desa Kujangsari yang berada di lereng Gunung Sangkur. Bahkan, air yang tidak pernah habis itu dimanfaatkan pemerintah desa untuk dikonsumsi.
Bendahara BUMDes Kujang, Tata Mustamal Akbar, mengatakan, keberadaan mata air di lahan yang dikelola oleh Perhutani itu, sudah sekitar satu tahun lebih airnya dimanfaatkan untuk kepentingan BUMDes Kujang.
“Hasil dari pemanfaatan mata air ini sesuai kesepakatan dengan Perhutani kita bagi, yakni dari keuntungannya itu, 25 persen untuk Perhutani dan 5 persen untuk LMDH. Sementara sisanya itu untuk mendongkrak produksi usaha yang dikelola BUMDes,” jelas Tata, kepada Koran HR, Selasa (28/08/2018).
Dengan adanya sumber mata air tersebut, lanjut Tata, BUMDes Kujang tidak lagi memasok air dari PDAM yang ditotal selama satu tahun sekitar Rp. 24 juta. Maka dari itu, dengan adanya sumber air dari alam yang dimiliki bisa menunjang produksi air konsumsi.
Ditemui di tempat yang sama, Kepala Desa Kujangsari, Siti Aisah, menambahkan, sumber mata air tersebut sangat bermanfaat bagi kepentingan masyarakat maupun pemerintah desa. Untuk pelanggan air minum yang dikelola BUMDes saja bisa mencapai sekitar 1.000 orang, dan setiap hari bisa mengirimkan sekitar 100 galon berisi air untuk konsumsi.
“Jadi sumber alam yang ada di sini bisa dimanfaatkan untuk pendongkrak PADes Kujangsari. Alhamdulillah, kita masih diberikan keberkahan dari alam yang begitu melimpah, terutama dari mata air yang tidak pernah surut ini. Agar tetap terjaga, kita selalu mengajak masyarakat untuk menjaga alam supaya bisa dimanfaatkan dengan baik. Apalagi di musim kemarau ini, sebagian masyarakat juga memanfaatkannya,” kata Siti.
Sementara itu, Wawan (50), warga Dusun Cijurey, mengatakan, mata air yang berlokasi di dekat rumahnya itu sejak dulu tidak pernah habis, meskipun dimanfaatkan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah desa. Air yang mengalir dari lereng pegunungan tersebut menjadi sumber air masyarakat, terutama di musim kemarau.
“Airnya dari sini tidak pernah habis walaupun digunakan oleh banyak orang, dan ini sudah dari dulu. Di sini ada dua mata air, yang satu digunakan oleh masyarakat dan satu lagi digunakan untuk pengisian galon yang dikelola oleh BUMDes,” kata Wawan, (Muhafid/Koran HR)