Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Kendaraan lapis baja jenis Panser peninggalan saat zaman penjajahan Belanda, kembali terlihat di Sungai Citanduy. Kendaraan tempur tersebut tertimbun pasir Sungai Citanduy, tepatnya di Lingkungan Parungsari, RW. 3, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar.
Panser di Citanduy tersebut terlihat saat debit air surut dua bulan lalu. Namun, kini terendam kembali karena volume air sungai mulai naik kembali.
“Kalau seminggu ke belakang masih terlihat. Tapi saat hujan turun pada Jumat sore kemarin, debit air sungai naik. Sekarang hanya terlihat bayangnya saja,” kata Dian, salah seorang warga setempat, kepada Koran HR, Selasa (25/09/2018).
Maman (50), warga Parungsari lainnya, mengatakan, sewaktu air Sungai Citanduy surut, kendaraan lapis baja tersebut terlihat bagian atasnya. Dan menjadi tempat bermain oleh anak-anak saat berenang di sungai.
“Panser yang tertimbun pasir itu posisinya terlihat miring, dan kemarin saat surut hanya bagian atasnya yang terlihat samar,” ujarnya.
Meski sebagian Panser tersebut terlihat samar, kata Maman, namun hal ini kembali menjadi perbincangan warga setempat. Sehingga, tak sedikit warga yang penasaran untuk melihat langsung keberadaannya.
Terkait keberadaan kendaraan perang tersebut, ada dua versi yang tersebar di masyarakat. Versi pertama menyebutkan bahwa, kendaraan tempur jenis Panser itu hendak melarikan diri ketika terjadi pertempuran antara para pejuang Indonesia, dengan tentara Belanda di wilayah Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis.
Sedangkan, versi kedua menyatakan bahwa, Panser tersebut hendak menuju ke daerah Yogyakarta untuk memperkuat pasukan Belanda. Karena pada saat itu tengah pemindahan pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta.
Namun, di tengah perjalanan tepatnya tikungan Batu Engko, kendaraan lapis baja itu dihadang tentara Indonesia dan rakyat yang ikut dalam pertempuran melawan penjajah Belanda. Kemudian, mendorong Panser tersebut ke Sungai Citanduy.
“Menurut cerita orang tua saya, dulu Panser ini kabur dari pertempuran di Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Tapi tepat tikungan Batu Engko, Panser itu dicegat kemudian didorong ke Sungai Citanduy oleh pejuang dan rakyat yang ikut bertempur,” kata Marsimin (68), warga Parungsari.
Kemudian, Panser itu perlahan hanyut terbawa banjir dan bergeser 200 meter dari posisi semula hingga ke posisi sekarang berada. Menurut Marsimin, dari dulu pun keberadaannya memang tidak terlihat utuh, hanya bagian atasnya saja yang terlihat karena tertimbun pasir.
Akan tetapi, cerita yang sebenarnya mengenai keberadaan Panser di Sungai Citanduy itu belum terungkap, dan sampai sekarang masih menjadi misteri.
Di tempat terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar, Oom Supriatna, mengatakan, penemuan Panser atau kendaraan lapis baja di Citanduy ini merupakan bukti peninggalan sejarah masa penjajahan Belanda. Jika nanti air sungai kembali surut, pihaknya pun akan meninjau ke lokasi di mana Panser itu tertimbun.
Oom juga mengatakan, bila nanti Panser di Citanduy berhasil terangkat, pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya. Untuk kemudian dipajangkan di Taman Kota Lapang Bhakti. Sehingga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi warga atau pengunjung Taman Kota. (Hermanto/Koran HR)