Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Kota Banjar merupakan daerah paling ujung Timur Jawa Barat yang langsung berbatasan dengan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Daerah yang terkenal tempat singgah ini juga memiliki segudang cerita mistis yang masih terjaga baik secara turun temurun. Hal itu terbukti adanya puluhan situs budaya di wilayah Kota Banjar.
Seperti di wilayah Desa Sinartanjung, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, terdapat sebuah tempat yang dikenal Raja Gosi, markas tentara Belanda saat menjajah Indonesia yang berada di tepi Sungai Citanduy.
Raja Gosi, berdasarkan berbagai sumber, merupakan patok atau dalam bahasa Sunda Rajeg yang terbuat dari bahan wesi atau besi. Sehingga, istilah Rajeg Wesi pun lebih mudah diucapkan Raja Gosi.
Unan (78) sesepuh Desa Sinartanjung, mengatakan, Raja Gosi atau Rajeg Wesi dahulunya merupakan peninggalan zaman kerajaan sebelum datangnya belanda. Di lokasi tersebut, dijadikan tempat tinggal dan tempat singgah kerajaan. Seiring berjalannya waktu, lokasi tersebut dikuasai Belanda dan dijadikan markas.
“Jadi, di situ dulunya ada patok besi yang ditancapkan sekitar 12 meter. Namun, sekarang sudah tidak terlihat lagi karena Sungai Citanduy mengalami abrasi, terutama saat dulu Gunung Galunggung meletus. Makanya sekarang besi itu sudah tidak terlihat lagi karena tertutup pasir,” katanya kepada Koran HR beberapa waktu lalu.
Unan menceritakan, di lokasi Rajeh Wesi tersebut yang dikenal sebagai tempat keramat itu dihuni oleh makhluk ghaib yang bernama Eyang Jagat Pati. Cerita mistis yang ada di lokasi tersebut terdapat sosok penunggu tersebut kerap muncul dalam wujud Buaya Putih, Ular besar, maupu kura-kura yang ukurannya sangat besar.
“Tempat ini memang dikenal keramat, apalagi orang dari luar ada saja yang semedi untuk mencari pesugihan. Tapi banyak yang gagal, karena godaannya yang sering muncul kalau tidak Buaya, ular atau kura-kura,” ujarnya.
Sementara itu, yang berjaga di pintu (ghaib, red) Rajeg Wesi tersebut, diketahui bernama Aki Terong Peot dan Nini Terong Peot. Sedangkan lokasi di seberangnya diketahui tempat Eyang Prabu Songsong yang kurang begitu dikenal oleh masyarakat.
Meski dahulu kerap digunakan tempat semedi oleh masyarakat dari luar Banjar dan konon diyakini berhasil untuk pesugihan, namun bagi masyarakat Banjar sendiri justru tidak berlaku, atau dalam istilah orang setempat hanya Kaauban alias tertutup.
“Rajeg wesi juga dikenal tempat berkumpulnya buaya-buaya, akan tetapi itu buaya ghaib. Sedangkan tempat berkumpulnya hewan-hewan ghaib itu di Leuwi Keris yang lokasinya di wilayah Jawa Tengah, tidak jauh dari lokasi Rajeg Wesi.
Joni, salah satu warga, menuturkan, jika dahulu di sekitar lokasi Rajeg Wesi merupakan perkampungan yang cukup ramai di waktu itu. Namun, seiring berjalannya waktu, medio 1953-1945 warga cikal Pananjung itu berpindah tempat ke wilayah yang ada sampai saat ini, yakni di sekitarah jalur pengairan Banjar-Manganti.
“Kata orang tua, dulunya perkampungan ini berupa kebun karet, sedangkan yang ramai itu di Rajeg Wesi. Sejak adanya tuker guling yang saya sendiri tidak tahu faktornya, penduduk pun pindah ke tempat yang saat ini. Makanya, Pananjung dulu dikenal sebagai kampung baru,” jelasnya.
Setelah Kampung Baru sudah terbentuk, dan masuk wilayah Desa Mulyasari dengan nama Sinartanjung, wilayah tersebut pun mekar menjadi desa tersendiri menjadi Desa Sinartanjung, sedangkan Pananjung menjadi dusun.
“Sekarang di wilayah Rajeg wesi menjadi perkebunan dan wilayah ini yang tadinya kebun karet jadi tempat pemukiman warga,” pungkasnya.
Dari pantauan Koran HR, lokasi Rajeg Wesi tidak terlihat bekas apapun, baik besi maupun bangunan. Hanya saja ada bongkahan tanah di tepi Sungai Citanduy yang mengalami abrasi. Sementara itu, lokasi tersebut pula menjadi tempat warga untuk mencari pasir menggunakan perahu. (Muhafid/Koran HR)