Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Mendesaknya penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kota Banjar yang sampai saat ini terganjal regulasi, Yayasan Mata Hati, Kader WPA, bersama KPA Kota Banjar mendorong segera diterbitkannya Perwal tentang Penanganan dan Penanggulangan HIV/AIDS.
Saat para pegiat HIV/AIDS Kota Banjar tersebut melakukan rapat tindak lanjut rancangan Perwal HIV/AIDS di ruang rapat Setda Kota Banjar dengan Dinkes serta Plt. Walikota Banjar, Darmadji Prawirasetia, Rabu (14/03/2018), mereka menyampaikan berbagai usulan yang bermuara Perwal tersebut untuk segera diterbitkan. Pasalnya, penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS di lapangan kerap terganjal karena belum adanya aturan tersebut.
Seperti yang disampaikan Eva Latifah, Perwakilan dari LSM Yayasan Mata Hati, bahwa pihaknya bersama Kader WPA mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas di lapangan untuk melakukan sosialisasi maupaun upaya pencegahan agar HIV/AIDS bisa dilakukan di berbagai elemen, termasuk di lembaga pemerintahan seperti di desa.
“Kita yang di lapangan sudah siap dan kompak untuk melaksanakan tugas ini, namun seringkali justru yang dipertanyakan regulasinya. Karena kalau menunggu Perda cukup memakan waktu, Perwal inilah yang menjadi salah satu solusi tepat agar kami tidak kerepotan di lapangan,” katanya.
Meskipun sebelumnya dorongan Perwal ini sudah disampaikan, namun setelah disepakatinya berbagai faktor pendukung demi terbitnya Perwal tersebut, Eva harap pemangku kebijakan secepatnya mengesahkannya sesuai yang diinginkan.
Di tempat yang sama, Plt. Walikota Banjar, Darmadji Prawirasetia, menyambut baik usulan diterbitkannya Perwal tersebut. Pasalnya, jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (Odha) hingga saat ini mencapai angka 250 yang sudah diverifikasi dan 20 orang masih proses verifikasi.
“Kalau Perda butuh waktu lama, makanya karena situasi ini mendesak untuk penanganan yang serius, Perwal ini saya harap bisa segera diterbitkan,” tegas Darmadji.
Dari jumlah 250 ODHA tersebut, lanjut Darmadji, di antaranya 100 ODHA dari kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL). Sementara itu, sejak tahun 2004 hingga tahun 2018 ini, tercatat sudah ada 15 ODHA yang meninggal.
“Semua pihak harus ikut andil dalam menanggulangi dan mencegah penyebaran HIV/AIDS ini, termasuk OPD hingga tingkat Desa/Kelurahan yang ada di Banjar,” katanya. (Muhafid/R6/HR-Online)