Atap ruang kelas V Madrasah Ibtidaiyah (MI) Persatuan Umat Islam (PUI), di Dusun Cicanggong, Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, kondisinya sangat memprihatinkan. Foto : Eji Darsono/ HR
Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Atap ruang kelas V Madrasah Ibtidaiyah (MI) Persatuan Umat Islam (PUI), di Dusun Cicanggong, Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, kondisinya sangat memprihatinkan. Pasalnya bila hujan turun, air mengguyur dan menggenangi ruangan kelas tersebut.
Pengelola MI PUI Cicanggong berharap Kementrian Agama (Kemenag) segera menindaklanjuti kondisi atap bangunan ruang kelas tersebut. Salah satunya dengan melakukan peninjauan dan memberikan bantuan dana perbaikan.
Guru MI PUI Cicanggong, Iwan Setiawan, ketika ditemui Koran HR di ruang kerjanya, Selasa (20/02/2018), membenarkan kondisi atap bangunan ruang kelas madrasah tersebut. Menurut dia, jika turun hujan kegiatan belajar mengajar menjadi terganggu.
“Ini terjadi akibat kondisi bangunan sudah lapuk dimakan usia. Bila hujan turun, proses pembelajaran terpaksa dialihkan ke tempat lain. Sebab air hujan masuk ke ruangan kelas,” katanya.
Iwan mengungkapkan, kondisi yang dialami MI PUI Cicanggong sudah berlangsung lama. Apalagi, menurut Iwan, ruangan kelas V yang rusak tersebut sudah hampir 20 tahun atau sejak awal dibangun, belum pernah diperbaiki.
“Awal dibangun, anggarannya didapat melalui swadaya masyarakat. Bila dibiarkan tanpa ada bantuan dana untuk perbaikan, kami khawatir kerusakan pada bangunan madrasah ini akan semakin bertambah parah,” katanya.
Kepala MI PUI Cicanggong, Endin, ketika dimintai keterangan, Selasa (20/02/2018), membenarkan kerusakan yang terjadi pada bagian atap bangunan ruang kelas V tersebut. Menurut dia, selain soal kerusakan, MI PUI Cicanggong juga masih kekurangan ruang belajar.
“Kalau dilihat dari jumlah siswa, kami masih kekurangan ruang kelas. Siswa saat ini berjumlah 124 orang, sedangkan ruangan yang ada hanya untuk lima kelas. Idealnya, ruang kelas baru ditambah tiga lagi,” katanya.
Endin menuturkan, untuk mengantisipasi kebocoran pada saat turun hujan, pihaknya terpaksa memindahkan kegiatan belajar-mengajar siswa ke gudang. Dia berharap, usulan penambahan ruang kelas baru bisa secepatnya direalisasikan Kemenag.
“Kalaupun tidak, minimal ada perbaikan untuk ruang kelas V. Sebab selama ini, kondisi ruang kelas V sudah lapuk. Kami khawatir, jika terus dguyur hujan. Tiba-tiba bangunan ambruk dan mencelakai siswa,” katanya. (Dji/Koran HR)