Berita Ciamis (harapanrakyat.com),- Naiknya harga beras membuat kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah di wilayah Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menjerit. Mereka mendesak pemerintah daerah untuk secepatnya menggelar operasi pasar supaya harga beras bisa stabil kambali.
Seperti diungapkan Atik, seorang ibu rumah tangga, warga Desa Kawalimukti, kepada HR Online, Senin (22/01/2018). Menurutnya, secara umum kenaikan harga beras sangat menguntungkan para petani. Namun, disisi lain telah di keluhkan oleh masyarakat yang tidak punya penghasilan tetap.
“Kenaikan harga beras akhir-akhir ini antara 4.000 rupiah hingga 4.500 rupiah dari satu kilogramnya. Sebelumnya harga beras hanya 9.000 per kilogramnya, sedangkan sekarang ini mencapai 13.500,” tuturnya.
Dengan meroketnya harga beras saat ini, lanjut Atik, terkadang ibu-ibu rumah tangga hanya membelinya 1/2 kilogram saja. Padahal biasanya minimal membeli 1 kilogram untuk kebutuhan per harinya.
“Kalau harga terus merangkak naik, saya juga khawatir kepada para tetangga. Di balik naiknya harga beras, sudah tiga bulan jatah raskin yang biasa diterima tidak keluar,” ungkap Atik.
Warga lainnya, Endi, mengatakan, bagi masyarakat yang memiliki sawah memang tidak akan menjadi masalah. Namun, untuk masyarakat yang biasa membeli beras, tentu naiknya harga beras dirasa sangat berat.
“Apalagi kalau belanjanya di warung-warung kecil, sehingga harganya pun akan lebih mahal,” ujar Endi.
Keluhan serupa juga dingkapkan warga lainnya, Ulung, bahwa kenaikan harga beras jelas sangat berdampak terhadap masyarakat ekonomi lemah. Sebab, naiknya harga beras akan memicu kenaikan harga beberapa bahan pokok lainnya.
“Dengan kondisi ini, ekonomi masyarakat terkuras dan terbebani untuk kebutuhan yang lain. Untuk itu pihak pemerintah harus secepatnya mengambil langkah-langkah guna menekan kenaikan harga beras yang dimungkinkan berdampak pada kenaikan harga bahan pokok lainnya. Hal ini bisa dianggap sebagai musibah bagi masyarakat,” kata Ulung. (Dji/R3/HR-Online)