Tiga anak jalanan yang terjaring razia saat digunduli petugas polisi di Polresta Banjar. Photo: Hermanto/HR.
Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-
Meski sudah ada korban tewas dan meresahkan warga, seakan tidak ada kapoknya bagi anak-anak jalanan untuk tetap ngompreng naik kendaraan bak. Mereka melakukan aksi yang cukup menantang maut dengan cara menyetop kendaraan besar, baik truk atau pick up, di tengah jalan raya.
Hal itu terlihat di Jalan Brigjen M. Isa, puluhan anak jalanan baik pria maupun wanita, melakukan aksi nekad dengan menyetop kendaraan dan pasang badan di tengah-tengah jalan untuk mendapat tumpangan. Bahkan, beberapa kali terjadi adu mulut antara anak jalanan dengan sang sopir yang dicegat lantaran menolak untuk mengangkut mereka.
Seperti diungkapkan Gunawan (29), seorang sopir warga Cihideung, Tasikmalaya. Ia mengaku sering dicegat sejumlah anak jalanan yang ingin naik kendaraan yang dikemudikannya. Padahal, saat itu dirinya tengah mengangkut barang berupa celengan untuk dikirim ke Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
“Hampir sepanjang jalan dari Ciamis sampai Banjar selalu ada anak jalanan. Mereka mencegat mobil dengan cara menghadang di tengah jalan. Ya mau bagaimana lagi, saya pun berhenti dan mereka pun naik, meski saat itu bak terisi muatan tapi mereka tetap memaksa,” terang Gunawan, kepada Koran HR, di Rest Area Banjar Atas, Selasa (02/01/2018).
Hal serupa dikatakan, Hendar (36), sopir mobil bak lainnya. Ia sangat menyayangkan dengan puluhan anak jalanan yang kerap melakukan aksi nekad tersebut. “Aksi mereka itu sangat berbahaya, baik bagi dirinya maupun orang lain,” kata Hendar.
Sementara itu, Dede (34), salah seorang warga Lingkungan Banjarkolot, mengatakan, bahwa aksi mereka itu ada yang memerintahnya. Menurut Dede, mereka itu tak beda dengan kelompok atau geng jalanan dan ada koordinatornya.
“Aksi tersebut merupakan suatu ujian kelompok mereka, bagi siapa yang bisa menyetop kendaraan truck dan berhasil memberhentikannya, berarti anak tersebut lulus dan siap masuk ke kelompok atau geng mereka,” jelas Dede.
Di tepat terpisah, salah satu perwira Polresta Banjar, AKP. Usep Supian, mengatakan, pihaknya sudah sering memberi pelajaran kepada mereka untuk tidak melakukan aksi berbahaya itu. Namun, mereka tetap melakukan hal itu demi sebuah jati diri.
“Menurut mereka itu adalah sebuah jati diri. Seperti halnya pada hari Sabtu, tanggal 30 Desember 2017 lalu, polisi berhasil mengamankan tiga anak jalanan yang tengah melakukan cegat kendaraan. Mereka usianya rata-rata masih remaja, dan terpaksa digunduli rambutnya,” kata Usep.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Sosial Perlindungan Perempuan dan Anak, Asep Tatang Iskandar, berjanji kalau pihaknya akan melakukan razia terhadap anak-anak jalanan yang meresahkan masyarakat. Pihaknya pun dalam melakukan razia akan berkoordinasi dengan Satpol PP dan Polresta Banjar.
Hasil razia, anak-anak jalanan tersebut nantinya akan diberi pembinaan berupa wirausaha atau berlatih kerajinan-kerajinan lainnya. Mereka akan dibawa ke Dinsos Provinsi atau ke Cirebon.
“Hingga kini, di Kota Banjar masih banyak aksi nekad yang dilakukan anak jalanan. Usia mereka rata-rata masih remaja antara 16 tahun hingga 23 tahun, bahkan tak jarang status mereka masih pelajar. Anak-anak jalanan itu rata-rata datang dari luar Banjar, bukan asli anak Banjar,” jelas Asep Tatang. (Hermanto/Koran HR)