Surau tempat Kyai Abdul Hamid bermunajat dan berkumpul dengan tentara hizbullah untuk beruding menyusun strategi perang melawan penjajah Belanda. Photo: Aceng/HR.
Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-
Gunung Singkup yang berada di wilayah Desa Bojongkondang, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, memiliki banyak sejarah. Mulai dari berkembangnya agama Islam di Pulau Jawa hingga lahirnya tentara-tentara hizbullah yang ikut merebut kemerdekaan Republik Indonesia.
Sesepuh Pondok Pesantren Bustanul Afifin, KH. Holid, ketika ditemui HR Online dua pekan lalu, mengatakan, pada waktu itu tentara hizbullah yang terdiri dari masyarakat se-Priangan berkumpul dan berunding terlebih dahulu di Gunung Singkup. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, dan dipimpin oleh Kyai Abdul Hamid, seorang tokoh agama Islam dan juga tokoh masyarakat yang ikut andil dalam merebut kemerdekaan Indonesia. [Baca berita terkait; Surat Bupati Pangandaran Terkait Penebangan Hutan Bikin Masyarakat Sedikit Lega].
Di Gunung Singkup banyak peninggalan yang punya nilai sejarah. Kyai Abdul Hamid saat itu bermunajat, dan di sini pula ia menyusun setrategi perang melawan tentara Belanda ke Bandung. Menurut KH. Holid, sudah saatnya Gunung Singkup dijadikan kawasan cagar budaya karena sangat bersejarah bagi agama Islam maupun untuk Indonesia.
“Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keaslian dan peninggalan Kyai Abdul Hamid, jangan sampai ada yang merusaknya. Dengan berhembusnya isu penebangan dari pihak Perum Perhutani, saya pribadi menolak hal itu,” tandasnya.
Selain karena nilai sejarahnya, lanjut KH. Holid, Gunung Singkup juga merupakan sumber mata air dan sumber kehidupan masyarakat, terutama di Pangandaran, Banjar dan Tasikmalaya. Sebab, banyak sungai di tiga kabupaten kota tersebut yang berhulu di Gunung Singkup.
“Mari kita pertahankan bersama dan kita minta hutan ini dijadikan hutan lindung atau cagar budaya,” kata KH. Holid. (Cenk/R3/HR-Online)