Foto: Ilustrasi net/Ist
Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis, Kustini, mengatakan, memasuki musim penghujan khususnya di Kabupaten Ciamis, cuaca dingin sangat mendukung percepatan pertumbuhan hama wereng yang dapat merugikan seluruh petani.
“Untuk cuaca saat ini, memang sangat sulit diprediksi seperti waktu-waktu sebelumnya. Cuaca sekarang ini bisa dibilang musim penghujan, bisa juga musim kemarau. Dikarenakan cuaca selalu berubah-ubah. Nah, cuaca seperti inilah yang dapat menimbulkan hama wereng langsung tumbuh secara cepat,” kata Kustini, ketika ditemui Koran HR, Senin (31/07/2017).
Menurutnya, daerah-daerah lembab yang dengan cepat mengalami pertumbuhan hama wereng diantaranya, Kecamatan Baregbeg, Cipaku, Panawangan, Sukadana, Rancah, Tambaksari dan Pamarican.
“Setelah ada laporan dari masyarakat, kami langsung turun ke lapangan untuk mengendalikan populasi wereng agar tidak tumbuh lebih pesat lagi. Ada beberapa tempat yang populasi werengnya sangat tinggi, setelah kita melakukan gerakan selama tiga hari, Allhamdulillah populasi pertumbuhan hama wereng dapat diminimalisir,” ujarnya.
Kustini menuturkan, hama wereng secara tidak langsung mematikan tanaman padi, tetapi dalam prosesnya hama wereng secara perlahan-lahan dapat mematikan tanaman padi sampai berwarna coklat. Dengan dikendalikan hama wereng itu secara continue, diharapkan tanaman padi tersebut bisa diselamatkan.
Dengan adanya permasalahan tersebut, sambung Kustini, Pemerintah Pusat melalui Pemerintah Daerah meluncurkan kartu tani di setiap kabupaten/ kota di Jawa Barat, diantaranya di Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Bandung.
Untuk di Kabupaten Ciamis, kartu tani dialokasikan kepada beberapa kelompok yang mencangkup sebanyak 700 petani. Diakhir tahun 2017 ini seluruh petani harus terdata semuanya, sehingga semua petani khususnya di Kabupaten Ciamis segera mendapatkannya.
“Kartu tani ini bisa digunakan secara multifungsi, seperti ATM dan dapat menyimpan uang seperti tabungan dan yang lainnya. Untuk tahap awal sekarang ini difokuskan untuk menyimpan ataupun penebusan berupa pupuk bersubsidi, supaya program pemerintah tersebut dapat kena sasaran terutama para pertani yang sangat membutuhkan,” tuturnya.
Salah satu contoh, Kustini menambahkan, apabila petani mempunyai luas sawah 1 hektar, mempunyai jatah pupuk bersubsidi sebanyak 200 kilogram. Kriteria yang menggunakan kartu tani ini adalah petani yang harus terdaftar di tiap kelompok masing-masing daerah.
“Dikarenakan program ini merupakan tahap awal untuk penebusan pupuk bersubsidi. Kalau petani tidak mempunyai kartu tani maka tidak bisa memperoleh pupuk bersubsidi, dikarenakan harga pupuk bersubsidi di toko sangat jauh berbeda dibandingkan dengan harga bersubsidi,” ungkapnya.
Kustini menjelaskan, pupuk bersubsidi tersebut telah bekerjasama dengan salah satu bank dalam penyalurannya, khususnya di wilayah Priangan Timur.
“Kartu Tani akan segera diluncurkan paling lambat pada awal tahun 2018 mendatang. Kartu Tani ini digunakan untuk pembelian pupuk bersubsidi dengan harga Rp. 2000, jauh perbedaannya dibandingkan dengan harga asli sekitar Rp. 6000 per kilogramnya,” jelasnya. (Tan/Koran HR)