Foto: Ilustrasi net/Ist
Berita Teknologi, (harapanrakyat.com),-
Akhir-akhir ini jagad teknologi dunia tengah digemparkan adanya malware yang meminta tebusan kepada pengguna atau user yang terinfeksi. Istilah malware ini disebut sebagai ransomeware. Bahkan, ransomeware dikabarkan telah menginfeksi komputer di 16 rumah sakit Inggris hingga menyebar ke 99 negara dalam waktu dua hari sejak Jum’at (12/05/2017) kemarin.
Dilansir dari berbagai sumber, ransomeware juga sudah merambah ke berbagai komputer yang ada Indonesia. Lantaran penyebarannya cukup cepat, ransomeware seolah menjadi hantu yang membuat para pengguna komputer maupun lembaga serta institusi terancam keamanannya.
Biasanya, ransomeware melakukan aksi agar penggunanya tidak bisa mengakses komputer dengan mengunci layar pengguna dan meminta tebusan agar bisa mengaksesnya kembali. Hal ini merupakan salah satu jenis Locker Ransomeware (Non Ekripsi).
Selain itu, jenis lainnya adalah Crypto Ransomeware atau jenis ransomeware yang mengekripsi data penting di komputer. Jika sudah terjangkit, maka data penting tersebut tidak bisa dibuka kecuali mendapatkan kunci dekripsi dengan cara membayar tebusan sejumlah uang kepada penjahat siber.
Serangan ransomeware yang semakin menggila, bukan saja menyerang satu platform software semata seperti halnya Windows. Namun, berbagai platform seperti halnya Mac OS maupun Linux juga menjadi targetnya. Selain itu, pengembang malware juga ada yang sengaja menciptakan ransomeware dengan tujuan menyerang system server yang berguna menguasai jaringan komputer untuk bisa mendapatkan hasil dengan jumlah lebih besar.
Sementara itu, ransomeware juga mengincar berbagai situs E-Commerce yang saat ini tengah mewabah. Parahnya, pengembang ransomeware menjadikan serangan mereka sebagai bisnis franchise yang bisa digunakan oleh siapapun, sekalipun oleh newbie. Dengan system bagi hasil yang menguntungkan, pengembang terus meraup keuntungan dari kejahatannya.
Jika pengguna sudah terjangkit ransomeware, maka ia akan dibatasi untuk melakukan tebusan untuk mengembalikan data yang terkunci. Apabila hal itu tidak diindahkan, kemungkinan besar data tersebut akan hilang secara permanen. Selain itu, bila pengguna berkenan membayar tebusan yang diminta, maka file atau data yang terkunci tersebut baru bisa kembali lagi.
Meskipun penyebaran ransomeware membuat ketakutan para penggunanya, Pemerintah Indonesia melalui Kemkominfo yang bekerjasama dengan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (Id-SIRTII) saat ini tengah merumuskan langkah pencegahan penyebaran ransomware, terutama jenis WannaCry.
Ketua Id-SIRTII M. Salahuddin, menjelaskan seperti yang dikutip dari laman Kompas, ransomware WannaCry dapat dengan mudah menginfeksi komputer tanpa diketahui serta tidak membutuhkan campur tangan pengguna lain seperti pada teknik phising. Karena hal itu, jika satu komputer terinfeksi, maka komputer lain seperti dalam sebuah kantor, akan terinfeksi semua.
Ia menghimbau, sebelum menghidupkan komputer agar jangan terlebih dahulu terhubung ke LAN (local area network) sebelum data-data penting diamankan. Ia menyarankan untuk memastikan antivirus yang digunakan sudah update serta security patchnya sesuai yang disarankan oleh Microsoft. (Muhafid/R6/HR-Online)