Ketika lagu karuhun dilantunkan pada puncak acara pesta hajat bumi, tiga warga Desa Sagalaherang, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, kerasukan roh leluhur keramat gandul. Photo : Eji Darsono/ HR
Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-
Ketika lagu karuhun dilantunkan pada puncak acara pesta hajat bumi, tiga warga Desa Sagalaherang, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, kerasukan roh leluhur keramat gandul, Senin (10/04/2017) lalu.
Supendi (65), warga setempat, menjelaskan, lagu-lagu karuhun biasa dilantunkan pada puncak acara hajat bumi. Konon, menurut dia, lantunan lagu tersebut merujuk pada permintaan Eyang Pangempan (leluhur) Desa Sagalaherang yang dimakamkan di Keramat Gandul.
“Lagu-lagu karuhun itu antaralain, titi pati, golewang dan rajapulang. Ketika lagu-lagu tersebut dilantunkan, dipastikan ada warga yang kesurupan,” katanya.
Rusmana, tokoh mayarakat, menuturkan, warga yang kesurupan pada acara puncak hajat bumi, biasanya sudah tidak sadarkan diri sejak keluar rumah. Mereka yang kesurupan merupakan orang yang suka menjaga dan melestarikan Keramat Gandul.
Sekretaris Desa Sagalaherang, Sahidin, mengatakan, warga yang kesurupan sudah hilang kendali, sehingga begitu lagu karuhun titi pati dilantunkan, dia langsung menari tanpa menghiraukan sekelilingnya.
Lukman, budayawan setempat, menjelaskan, warga yang kesurupan pada acara hajat bumi bukan hasil rekayasa panitia. Dia juga tidak tahu pasti mengapa setiap lagu karuhun dilantunkan pada acara pesta bumi selalu ada warga yang kesurupan.
Kepala Desa Sagalaherang, Atang Mulyana, berharap, pesta hajat bumi menjadi momentum untuk mewujudkan masyarakat Desa Sagalaherang yang senantiasa bersyukur dan peduli terhadap kelestarian budaya bangsa.
Sementara itu, Bupati Ciamis, Iing Syam Arifin, mengatakan, hajat bumi merupakan budaya peninggalan leluhur yang harus tetap dipertahankan. Karena tidak setiap desa atau kecamatan memiliki tradisi hajat bumi. (Dji/Koran HR)