Sebuah batu yang mirip jejak kaki manusia yang ditemukan di aliran sungai Citanduy atau di sekitar areal pembangunan Bendungan Leuwikeris di daerah Keluruhan Benteng, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis. Foto: Istimewa/Dinas Parawisata
Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-
Dinas Parawisata dan Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ciamis, kembali melakukan penyisiran di aliran sungai Citanduy atau di sekitar areal pembangunan Bendungan Leuwikeris yang berada di antara Keluruhan Linggasari Kecamatan Ciamis hingga ke Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (01/03/2017). Penyisiran itu dilakukan untuk memastikan temuan sebelumnya, dimana terdapat sejumlah batu berbentuk unik yang diduga benda-benda purbakala atau peninggalan sejarah masa lalu.
Kabid Destinasi Dinas Parawisata Kabupaten Ciamis, Budi Kurnia, mengatakan, setelah pihaknya terjun langsung melakukan penyisiran di aliran sungai Citanduy, ternyata benar banyak terdapat batu berbentuk unik yang diduga kuat sebagai benda purbakala.
[Berita Terkait: Di Lokasi Pembangunan Bendungan Leuwikeris Ciamis Ditemukan Batu Purbakala?]
“Batu yang kami temukan itu tak hanya tumpukan batu yang tersusun rapi berbentuk seperti piramid, tetapi juga ditemukan beberapa batu yang terdapat jejak kaki manusia. Selain itu, ditemukan juga batu yang ditimbul di tengah sungai. Konon batu itu merupakan alat penyebrangan manusia zaman dulu. Batu itu digunakan sebagai pijakan saat menyebrangi sungai dengan cara meloncat,” terangnya, kepada HR Online, Kamis (02/03/2017).
Budi menambahkan, setelah turun langsung ke lokasi, dirinya akhirnya memahami kenapa temuan batu-batu yang diduga benda purbakala itu baru saat ini terungkap. Ternyata, kata dia, lokasi batu tersebut berada di pinggir sungai yang hanya mudah diakses dengan menggunakan perahu.
[Berita Terkait: Batu yang Diduga Benda Purbakala di Bendungan Leuwikeris Ciamis Akan Diteliti]
“Kalau menggunakan akses darat harus menempuh jalan kaki yang melawati hutan yang dikeramatkan oleh warga sekitar. Karena aliran sungai Citanduy yang berada di daerah itu dihapit atau dibelah oleh hutan yang berada di dua wilayah, yakni sebagian hutan berada di wilayah Kabupaten Ciamis dan sebagian lagi terdapat di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Makanya, daerah itu jarang sekali dijamaah oleh manusia,” terangnya.
Selain itu, lanjut Budi, meski untuk menuju ke lokasi penemuan batu bisa menggunakan perahu karet, namun tidak bisa dilakukan kapan saja. Karena apabila debit air sungai naik, sangat berbahaya meski menggunakan perahu.
“Kalau debit air sungai naik, arusnya sangat kencang. Kalau dipaksakan, kemungkinan besar perahu terbalik dan membahayakan keselamatan jiwa penumpangnya. Makanya, kemarin kami sempat kesulitan menuju ke lokasi ketika curah hujan meningkat yang berimbas tingginya debit air sungai,” ujurnya. (Bgj/R2/HR-Online)