Kondisi terowongan kereta api Hennry Wilhelmina yang terletak di Dusun Girimukti, tepatnya di perbatasan Desa Sukamukti dan Desa Binangun, terbengkalai dan terkesan menyeramkan. Photo: Hermanto/HR.
Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-
Terowongan kereta api Hennry Wilhelmina yang terletak di Dusun Girimukti, tepatnya di perbatasan Desa Sukamukti dan Desa Binangun, sudah lama terbengkalai dan terkesan menyeramkan.
Sejak ditutupnya jalur kereta api Banjar-Pangandaran-Cijulang sepanjang 82 kilometer pada tahun 1982, terowongan yang dibangun pada zaman kolonial Belanda 1911-1914 dan memiliki panjang kurang lebih 281,5 meter ini, kini sangat membutuhkan sentuhan tangan pemerintah.
Saat Koran HR menyusuri terowongan tersebut, Senin (06/02/2017) lalu, keberadaannya terlihat memprihatinkan. Bagian jalan rel kereta api sudah hilang dan di sekitar terowongan banyak ditumbuhi tanaman semak belukar.
Di dalamnya pun tidak terdapat gudang atau ruangan seperti banyak diceritakan orang, yang ada hanya beberapa sleko, yaitu tempat untuk menghindar petugas KA jika ada kereta api melintas. Ukurannya 1 meter persegi dan letaknya berada di kanan dan kiri dinding terowongan.
Beni Astaparadja (38), salah seorang warga Desa Binangun, mengatakan, terowongan ini memang sudah lama jarang dijamah orang, sehingga kondisinya kini tampak kumuh akibat tidak terurus.
“Sangat kumuh dan terlihat seram, semak belukar pun ikut menambah seramnya terowongan ini,” ujarnya, kepada Koran HR.
Menurut dia, banyak orang yang melewati terowongan tersebut, namun itu pun hanya pada event-event tertentu saja, seperti trail adventure dan sepeda gunung. Jika melewati terowongan ini harus ekstra hati-hati, karena selain jalannya licin dan berair, di dalam terowongan ini banyak terdapat ular berbisa.
“Pernah ada salah seorang yang tengah trail dipatuk ular berbisa di bagian betis kaki kirinya. Beruntung dia cepat ditolong oleh rekan-rekannya dan langsung dibawa ke rumah sakit,” tutur Beni.
Salah satu anggota Komunitas Pecinta Kereta Api, Tasfid (34), menyebutkan, selain tidak terawat dan sangat kotor, serta keberadaan rel di dalam terowongan sudah tidak ada, kini jalur rel di beberapa tempat juga sudah banyak yang dijadikan pemukiman warga.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Banjar, Ubaedillah, mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan keberadaan terowongan yang penuh dengan sejarah itu kini terbengkalai dan tak terurus.
“Terowongan itu sangat membutuhkan sentuhan dari pemerintah. Jika dibiarkan seperti ini, kami khawatir terowongan Hennry Wilhelmina ini akan hilang pamornya dari sejarah maupun aset wisata,” tandasnya. (Hermanto/Koran HR)