Tatang saat memanen labu Butternut Squash di kebunnya. Photo: Istimewa.
Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-
Labu, merupakan salah satu buah sayur yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Dengan bentuknya yang cukup variatif, mulai dari bulat, lonjong, panjang dan bentuk lainnya, namun buah sayur tesebut kerap diremehkan. Padahal, kandungan di dalamnya sangat bermanfaat bagi kesehatan karena kandungan gizinya yang sangat tinggi.
Perbedaan bentuk labu di masing-masing wilayah maupun negara kerap dijumpai perbedaannya yang sangat jelas. Di Indonesia, umumnya labu berbentuk bulat dan lonjong. Sedangkan di Eropa, Australia, Afrika Selatan maupun Selandia Baru bentuknya menyerupai kacang.
Meski jarak antar Negara Indonesia dengan negara-negara tersebut sangat jauh, namun labu yang berbentuk kacang ternyata dapat dijumpai di Kota Banjar. Labu tersebut dikenal dengan nama Butternut Squash.
Tatang, salah satu pembudidaya labu Butternut Squash asal Lingkungan Pataruman, Kelurahan/Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, menyebutkan, Butternut Squash ditemui supplier di Jakarta sekitar tahun 2013 dengan harga yang sangat tinggi lantaran diimpor dari Australia.
Karena kandungan nutrisi yang tinggi dalam kadar vitamin A, kalsium, asam folat dan rasa manis dari labu lainnya, serta tekstur daging yang lebih “pulen,” kini labu asing itu sudah mulai menjadi trend di Indonesia.
“Kalau di kota-kota besar dijual dengan harga cukup tinggi. Karena itu, para petani sepakat membentuk Asosiasi Petani Butternut Squash Indonesia untuk mengembangkan, memajukan dan membudidayakan Butternut Squash di Indonesia,” kata Tatang, kepada Koran HR, saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Senin (20/02/2017) lalu.
Karena budidaya Butternut Squash di Banjar belum ada, kata Tatang, dirinya merasa tertantang untuk mengembangkannya. Alhasil, jerih payahnya menimba ilmu di berbagai daerah dan proses perawatan tanamannya yang cukup rumit, Butternut Squash yang ia tanami pun bisa di panen.
“Satu buah biasanya mencapai berat 500 gram hingga 2 kilogram. Sedangkan panennya itu ketika tanaman sudah berumur 85 hingga 90 hari. Sementara untuk yang saya jual sekitar 10 ribu rupiah hingga 15 ribu rupiah per kilogramnya. Kalau di supermarket atau di kota-kota besar lebih mahal,” terangnya.
Adapun manfaat Butternut Squash bagi kesehatan yaitu dapat mengontrol gula darah, sehingga terbebas dari penyakit diabetes. Selain itu, Butternut Squash juga dapat menjadi obat anemia karena kandungan zat besi yang tinggi di dalamnya.
Bagi yang sedang menjalankan diet, labu impor tersebut juga sangat cocok lantaran memiliki banyak serat yang dapat menahan rasa lapar, serta manfaat lainnya bagi kesehatan tubuh.
“Karena itu, Butternut Squash saya terobsesi membudidaya di Banjar. Selain manfaatnya yang besar bagi kesehatan, secara ekonomi pun ini menjadi alternatif menghasilkan rupiah dengan waktu yang relatif sebentar, namun menguntungkan,” pungkas Tatang. (Muhafid/Koran HR)