Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Nasib malang menimpa Surya (4), bocah laki-laki anak angkat pasangan suami istri (pasutri) Hendi Sumardi dan Nurhayati, warga Dusun Cikawung, Desa Sindangsari, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Pasalnya, pertumbuhan Surya tidak normal lantaran mengidap gizi buruk.
Hendi, bapak angkat, ketika ditemui koran HR, Selasa (06/12/2016) lalu, di kediamnnya, mengatakan, Surya merupakan anak temannya dari Cianjur. Karena melihat kondisinya sangat memprihatinkan, empat bulan lalu Hendi meminta anak tersebut untuk dia rawat.
Pada waktu itu, kata Hendi, bobot Surya hanya 4 kilogram. Dia menduga, lambatnya pertumbuhan Surya disebabkan karena kurangnya asupan makanan bergizi. Menurut dia, Surya mengalami hal itu setelah ibunya meninggal.
“Anak ini tidak pernah diberi air susu ibu (ASI) ataupun asupan makanan bergizi. Setiap hari, orangtuanya hanya memberi air gula dan nasi dicampur penyedap,” katanya.
Saat ini, kata Hendi, di usianya yang menginjak empat tahun, Surya masih belum bisa berjalan dan berbicara. Dibandingkan saat masih bersama orangtuanya, kini bobot Surya mengalami kenaikan.
“Awalnya Surya hanya berbobot 4 kilogram, tapi kini sudah mencapi 9 kilogram,” katanya.
Warga yang namanya disebutkan, mengatakan, penghasilan keluarga sangat menentukan hidangan makanan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik dari sisi kualitas atau jumlah makanan.
“Lambatnya pertumbuhan yang disebabkan dari gizi buruk diakibat dari keterbatasan penghasilan keluarga (faktor ekonomi). Terlebih ditinggal mati oleh ibunya. Meski, begitu, dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, banyak keluarga berpenghasilan cukup akan tetapi makanan yang dihidangkan seadanya saja,” kata dia.
Kejadian gangguan gizi buruk tidak hanya ditemukan pada keluarga yang berpenghasilan kurang, akan tetapi juga pada keluarga yang berpenghasilan relatif baik. Termasuk keluarga yang tidak memiliki pengetahuan akan pentingnya gizi dalam makanan yang diberikan kepada bayi atau anak.
Sementara itu, Nurhayati, ibu angkat, mengatakan, meski Surya sebagai anak angkat, rasa kasih sayang dalam mengurus dan merawatnya tetap diperlakukan layaknya anak kandung sendiri.
“Entah akan bagaimana nasib Surya kalau tidak ada yang mengurus dan merawatnya,” kata Nurhayati.
Menurut Nurhayati, saat ini status Surya masi sebagai anak angkat. Meski belum diadopsi, dia akan tetap merawat Surya dengan baik, termasuk membiayainya keperluannya. Sebagai mahkluk sosial, dia ingin menolong dan membantu. (Dji/Koran HR)