Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Saat Jembatan Putrapinggan yang menjadi penghubung jalur ke kawasan wisata Pangandaran belum bisa dilalui beberapa waktu, seolah menjadi kenangan manis bagi para supir angkutan pedesaan dengan trayek Pangandaran-Cijulang. Sebab, mobil besar tidak dapat masuk ke Pangandaran kecuali menempuh jalur yang lebih jauh. Sehingga penggunaan angkutan pedesaan menjadi salah satu transportasi umum andalan waktu itu.
“Ketika jembatannya belum bisa dilalui mobil besar, saya setiap hari bisa mendapatkan untung sekitar Rp. 500 ribu,” kata Zaenal, salah satu supir angdes, kepada HR Online, Minggu (18/12/2016).
Zaenal menceritakan, mayoritas barang belanjaan yang menuju Pangandaran harus transit di sekitar Jembatan Putrapinggan ataupun sebaliknya. Kemudian barang-barang disebrangkan oleh kuli pikul dan langsung menggunakan angdes yang ada di Pangandaran.
“Sekarang saya setor tiap harinya Rp. 100 ribu dan pembelian bahan bakar sebanyak 30 liter untuk 3 kali PP Pangandaran-Cijulang. Jika berangkatnya pukul 04.00 pagi, bisa tiga kali PP. Tapi kalau kesiangan, cuma 2 kali saja dan penumpangnya juga sering sedikit,” ungkapnya.
Baca juga: Jembatan Bailey Ciputrapinggan Pangandaran Berkekuatan 20 Ton
Menurutnya, pengguna langganan angdes di Pangandaran biasanya kalangan PNS atau siswa sekolah. Sedangkan kalangan lain sangat jarang, kecuali ada wisatawan rombongan yang menyewa angkutannya.
“Saat ini jadi kerap tidak bisa setor ke pemilik mobil, karena penumpangnya jarang. Apalagi setor ke rumah. Jika ada pemandu menyewa untuk wisatawan, itu yang membuat saya lega, karena biasanya hanya satu kali perjalanan dan keuntungan cukup lumayan,” katanya.
Zaenal berharap, pemerintah tidak mengeluarkan trayek baru maupun armada angkutan pedesaan lagi. Sebab, jumlah angkutan pedesaan di Pangandaran yang 34 buah saja sudah membuatnya kerepotan karena sepinya pengguna jasa angkutan pedesaan. “Dengan jumlah yang 34 buah saya sudah kerepotan, apalagi jika ditambah lagi,” pungkasnya. (Askar/R6/HR-Online)