Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Aksi pencurian buah rotan di Gunung Sawal, tepatnya di Desa Cipaku, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat kembali terjadi. Warga menuding aksi pencurian itu kembali terjadi akibat lemahnya pengawasan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Suryadi (44), warga Bangbayangkidul, ketika ditemui Koran HR, Selasa (29/11/2016), mengatakan, aksi pencurian buah rotan di Gunung Sawal dikhawatirkan bakal mendatangkan bencana. Sebab, menurut dia, pengambilan buah rotan tersebut dilakukan dengan cara menebang pohon rotan.
Sebelumnya, kata Suryadi, masyarakat bekerjasama dengan BKSDA berhasil menangkap tiga orang pelaku pencurian buah rotan di wilayah pengunungan yang ada di Desa Bangbayang.
Kepala Dusun Cipaku Girang, Lili, ketika ditemui Koran HR, mengatakan, penangkapan pelaku pencurian buah rotan tersebut bermula dari kecurigaan warga terhadap orang tidak dikenal yang memasuki kawasan Gunung Sawal.
“Kemudian warga mengawasi kendaraan pelaku yang diparkir di sekitar hutan. Ternyata kecurigaan warga itu benar, pelaku membawa dua karung berisi buah rotan. Warga kemudian melaporkan hal itu ke pemerintah desa setempat,” katanya.
Kepala Desa Cipaku, Juhana, ketika dihubung Koran HR, Selasa (29/11/2016) lalu, membenarkan adanya aksi pencurian buah rotan di wilayah Desa Cipaku. Menurut dia, aksi pencurian itu terjadi minggu lalu.
“Pelaku berasal dari Pageurageung Tasikmalaya. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku diberi pembinaan dan sudah membuat pernyataan,” katanya.
Elin Suherlin, warga setempat, mengatakan, getah dan buah rotan merupakan produk ekspor yang bernilai jual cukup tinggi. Di pasar internasional, buah rotan dikenal dengan sebutan dragon blood atau darah naga.
“Getah dan buah rotan memiliki banyak manfaat dan dijadikan bahan baku beberapa pabrik berskala besar. Diantaranya untuk dijadikan bahan baku obat-obatan dan pewarna. Pencurian buah rotan ini bisa dipastikan karena para pelaku tergiur dengan harga jual getah dan buah rotan. Sebab, harga buah rotan bisa mencapai Rp. 50.000 perkilogram,” katanya. (Dji/Koran HR)