Photo: Ilustrasi net/Ist
Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ciamis melansir total indikator kemiskinan makro tahun 2013-2015 di Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Pangandaran, tercatat sebanyak 1.557,873 jiwa. Dari realisasi tersebut jumlah penduduk miskin dari dua kabupaten tersebut mencapai 146.860 jiwa dan dalam persentase mencapai 9,43 persen.
Kepala BPS Kabupaten Ciamis, Erna Tresna Prihatin, S.Si, ketika ditemui Koran HR, Selasa (08/11/2016) lalu, mengatakan, di Kabupaten Ciamis jumlah penduduk miskin dari tahun 2013 tercatat 100,804 jiwa atau 8,58 persen. Pada tahun 2014 penduduk miskin mengalami penurunan mencapai 99,810 jiwa atau mencapai 8,44 persen.
”Namun angka tersebut mengalami kenaikan pada tahun 2015. Pada tahun 2015 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Ciamis mencapai 104,870 jiwa atau sekitar 8,98 persen. Kenaikan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Ciamis ini disebabkan oleh harga beras yang mengalami kenaikan pada bulan September 2014 sampai dengan bulan Maret 2015,” katanya.
Erna menuturkan, dalam kebutuhan konsumsi, beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang mencapai 10,51 persen. Kenaikan harga beras tersebut terjadi disebabkan oleh kenaikan BBM pada tahun 2014 lalu.
“Kenaikan harga BBM sangat berpengaruh sekali terhadap kebutuhan pokok masyarakat. Tidak hanya faktor kenaikan BBM saja yang menyebabkan harga bahan pokok tersebut naik, bisa juga dari faktor alam seperti kemarau panjang yang mengakibatkan produksi tanaman bahan pangan semakin menurun, dan kenaikan harga itu terjadi pada bulan September sampai dengan bulan Maret 2015,” tuturnya.
Ia menjelaskan, dalam indikator kemiskinan makro Kabupaten Pangandaran, dari tahun 2013 dari jumlah penduduk 368,202 jiwa, jumlah penduduk miskin mencapai 32,209 jiwa serta persentase penduduk miskin sebesar 8,75 persen. Pada tahun 2014 jumlah penduduk mencapai 371,434 jiwa, penduduk miskin mencapai 30,218 jiwa dan persentase pada tahun 2014 mencapai 8,14 persen.
”Indikator kemiskinan pada tahun 2015 ternyata sama dengan Kabupaten Ciamis mengalami peningkatan mencapai 10,76 persen dari jumlah penduduk miskin sebesar 41,970 jiwa dan jumlah penduduknya mencapai 390,056 jiwa,” jelasnya.
Oleh sebab itu, kata Erna, faktor yang paling berpengaruh terhadap kemiskinan yakni kebutuhan tembakau yang harus segera dilakukan edukasi menyeluruh. Dikarenakan tembakau sudah menduduki peringkat ketiga sebesar 7,5 persen dari kebutuhan pokok.
”Masih banyak masyarakat yang selalu mementingkan tembakau seperti rokok tanpa memikirkan kebutuhan lainnya. Hal ini sudah sangat mengkhawatirkan, jikalau tidak ada kesadaran dari dirinya sendiri, seharusnya digeser sama kebutuhan pokok yang lain,” ucapnya.
Ada beberapa faktor kemiskinan, diantaranya faktor yang bisa diintervensi, salah satu contoh faktor tersebut adalah masalah harga barang dan jasa. Dalam artian semua kebutuhan inflansi masyarakat harus dijaga, sehingga faktor inflasinya harus rendah.
”Faktor yang tidak bisa diintervensi adalah karakter dari masyarakat itu sendiri. Dikarenakan karakter mereka (masyarakat) akan kembali kepada makanan yang bukan untuk meningkatkan terhadap penghasilannya, dalam artian infestasi rumah tangga,” pungkasnya. (Tantan/Koran HR)