Tabung gas ukuran 3 kilogram milik Rohimat. Photo: Entang Saeful Rahman/HR
Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-
Hampir 1 bulan warga Kabupaten Pangandaran mengeluh mahalnya harga gas elpiji ukuran 3 kilogram pasca bencana patahnya Jembatan Putrapinggan.
Di tingkat pengecer, harga tabung gas elpiji 3 kilogram mencapai Rp. 24 ribu hingga Rp. 25 ribu per tabungnya. Padahal, berdasarkan SK Bupati Pangandaran mematok Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp. 16.400 per tabung.
Rohimat, salah seorang pedagang di Kabupaten Pangandaran, mengaku kesulitan mendapatkan gas elpiji ukuran 3 kilogram pasca bencana Jembatan Putrapinggan patah.
“Kalaupun pasokan gas ada, langsung diburu warga meskipun harganya selangit, sehingga kelangkaan terjadi. Saya harap jembatan kembali normal supaya gas dan perekonomian di Pangandaran kembali stabil,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Pangandaran, Muchlis, mengatakan, naiknya harga elpiji disebabkan jarak tempuh yang lebih jauh dan pengangkutan yang dilakukan 2 kali. Sementara itu, hal tersebut juga berdampak pada kelangkaan gas elpiji di Pangandaran.
“Kami sudah berusaha menstabilkan harga elpiji sesuai dengan aturan yang berlaku, yakni Rp. 16.400 sesuai harga dari Kabupaten Ciamis,” ucapnya kepada Koran HR, Senin (31/10/2016) lalu.
Meskipun realisasi tersebut masih sulit, ia telah mengeluarkan kebijakan dengan mematok harga Rp. 20 ribu per tabung guna meringankan beban masyarakat.
“Sampai saat ini, kita masih mendapatkan pasokan gas dari Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis. Supaya kita bisa menekan harga gas, kita harapkan ada SPBE di Pangandaran,” katanya. (Ntang/R6/Koran HR)