Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Meningkatnya kasus pencabulan, seks bebas, penyalahgunaan obat batuk cair merk komix yang mengarah terhadap rontoknya moral generasi muda (demoralisasi), menjadi perhatian serius kalangan aktivis muda pegiat sosial di Kota Banjar. Salah satunya datang dari aktivis Front Mahasiswa Peduli Moral Kota Banjar (FMPM), Tsabit Andrea Habibi.
Menurut dia, permasalahan tersebut seharusnya menjadi perhatian bersama, karena Kota Banjar saat ini sedang mengarah menuju kehancuran sistem tatanan sosial. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus cepat respon dan tanggap terhadap fenomena yang sedang terjadi di tengah masyarakat sekarang ini.
“Sejauh ini, konsep pembangunan dengan jargon Kota Banjar yang agamis, beradab dan bermoral, perlu dipertanyakan lagi. Dari permasalahan ini perlu adanya sebuah sinergitas semua elemen untuk membendung gelombang demoralisasi saat ini,” ujar Tsabit, kepada Koran HR, Senin (07/11/2016) lalu.
Dia menilai, di sinilah pentingnya power keberadaan eksistensi dari wadah seluruh pemuda, yaitu KNPI sebagai inspirator dan agregator gegap gempitanya pemuda-pemudi Kota Banjar.
Tsabit menegaskan, KNPI memiliki peran yang begitu strategis karena yang menggerakan pemuda staternya adalah KNPI. Seluruh pemuda-pemudi Kota Banjar harus tampil ke muka menjadi garda terdepan dalam membendung wabah penyakit moral tersebut.
Pendapat serupa juga dikatakan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar, Ifan Fauzi. Pihaknya pun merasa prihatin atas apa yang terjadi belakang ini terkait tragedi bencana moral yang menimpa kalangan pemuda-pemudi Kota Banjar.
“Sekarang ini sudah menjadi titik klimaks dan harus diakhiri atas darurat runtuhnya moral generasi muda di bangsa ini. Kalau diuraikan, banyak faktor yang melatar belakangi motifnya, dari mulai tabiat cara pergaulan anak muda sekarang yang bebas dan glamor, lingkungan sosialnya, serta ada ruang kreatifitas yang terpasung di dalam dirinya,” kata Ifan.
Menurutnya, pemerintah selaku mandataris rakyat Kota Banjar mestinya harus ambil nahkoda untuk mensiasati dan mengawali dalam menggerakan ritme mesin, supaya mau mulai bergerak mengatasi masalah ini.
Karena, ke depan kalau tidak dibangun sistem yang mengontrol dan memperhatikan anak muda, kemungkinan besar mental dan karakter buruk akan tumbuh kembali. Untuk itu, pihaknya meminta kepada pemerintah agar kedepannya masalah seperti ini tidak lagi muncul. Sebab, hal ini menjadi tamparan keras wajah Kota Banjar.
“Artinya, roda pemerintahan harus selalu aktif menjalankan program-program kepemudaan yang mencegah dan menekan terjadinya masalah tersebut tumbuh kembali,” tandas Ifan. (Hermanto/Koran HR)