KPA Kota Banjar dan LSM Mata Hati saat memberikan pengetahuan bahaya HIV dan Aids kepada ratusan siswa di SMA AL Azhar. Photo: Muhafid/HR
Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-
Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Banjar mencatat selama bulan September 2016 di Banjar terdapat 10 kasus pelecehan seksual yang didominasi korbannya adalah pelajar dari tingkatan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
“Kami merasa prihatin di sebuah kota yang kecil ini justru dinodai perbuatan yang melanggar pidana maupun agama. Seharusnya kita semua bisa menanggulanginya dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap hal-hal tersebut,” ujar Boni Mastriolani, Pelaksana Program KPA Kota Banjar, kepada HR Online disela-sela kegiatan sosialisasi bahaya HIV dan Aids di SMA Al Azhar Kota Banjar, Sabtu (24/9/2016).
Menurutnya, semua masyarakat Kota Banjar harus mengantisipasi kejadian serupa dengan menjaga anak-anaknya dari berbagai ancaman pelecehan seksual yang mengintai, seperti berpakaian yang tidak mengundang syahwat maupun melakukan pendidikan dini terhadap anak yang memang kondisi labil.
“Sekarang banyak juga aplikasi android khusus kalangan gay maupun lesbian yang memfasilitasi penggunanya menyalurkan hasrat seksualnya melalui aplikasi tersebut. Lebih parah, ada yang dikhususkan menyasar pengguna tingkatan pelajar,” ungkapnya.
Melihat fenomena yang terjadi dan yang sedang berkembang, Boni berharap Pemkot Banjar bisa melakukan ketegasan melalui peraturan daerah yang dapat menjaga semua warganya, khususnya anak-anak, dari ancaman pelecehan seksual.
“Sosialisasi di setiap sekolah itu perlu, namun bukan hanya setelah mendapat temuan terjadi pelecehan seksual, akan tetapi jauh-jauh hari harus sudah dilakukan secara rutin agar generasi kita tahu dan bisa menjaga dari bahaya tersebut,” tutupnya.
Ditempat yang sama, Aam Hamdan, Pengelola Program Yayasan Mata Hati Jawa Barat, mengatakan, kegiatan transformasi pengetahuan terhadap semua kalangan baik dari tingkatan anak-anak hingga dewasa perlu dilakukan oleh semua orang. Pasalnya, kehormatan seseorang perlu dijaga agar tidak hancur gara-gara sebuah pelecehan seksual.
“Kami apresiasi kepada penyelenggara yang notabene adalah mahasiswa STAIMA Kota Banjar dalam melaksanakan salah satu bentuk perlawanan terhadap aksi pelecehan seksual dengan kegiatan sosialisasi terhadap pelajar. Ini perlu juga dilakukan oleh elemen lain yang peduli dengan masa depan anak-anak kita,” tegas Aam kepada HR Online.
Sementara itu, Mardiyah, ketua panitia, mengaku prihatin terhadap kejadian pelecehan seksual yang selama ini terjadi di Banjar. Menurutnya, kejadian tersebut akibat pengaruh pergaulan bebas yang memudahkan pelaku memanfaatkan aksinya.
“Kami mengajak sebagian siswa sekolah yang ada di bawah Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar mulai dari tingkatan SMP hingga SMA. Mudah-mudahan kita bisa bergerak bersama KPA maupun LSM Mata Hati dalam melawan aksi pelecehan seksual,” ujarnya kepada HR Online. (Muhafid/R6/HR-Online)