Berita Pangandaran (harapanrakyat.com),- PT Global Pertambangan Batubara Kalimantan sudah menyatakan kepada keluarga Dede Irfan Hilmi (26), bahwa tengah berupaya membebaskan 4 ABK-nya dari tangan teroris kelompok Abu Sayyaf dan meminta keluarga jangan khawatir. Pernyataan itu disampaikan pihak perusahaan saat menelpon Ono Suharno, ayah Dede Irfan Hilmi.
“Saat mendapat telepon dari perusahaan, mereka berjanji akan bertanggungjawab dan berusaha membebaskan anak saya dari tangan teroris. Semoga saja ada jalan keluar agar anak saya bisa segera dibebaskan,” kata Ono, kepada Koran HR, di rumahnya, di Dusun Cisempu RT 08/RW 03, Desa Ciparanti Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (19/04/2016). [Berita terkait: Warga Cimerak Pangandaran Disandra Teroris Abu Sayyaf di Filipina]
Ono mengaku sedikit lega ketika pihak perusahaan menyatakan bertanggungjawab atas disanderanya Dede Irfan Hilmi oleh kelompok teroris Abu Sayyaf di perairan laut Filipina. “Kami dari keluarga hanya bisa berdoa agar upaya pihak perusahaan dan pemerintah RI yang kini tengah berupaya membebaskan anak saya, bisa segera berhasil,” ujarnya.
Ono pun mengaku dirinya terakhir berkomunikasi dengan anaknya pada Senin (11/04/2016). Saat itu, kata dia, anaknya menelpon untuk memberikan kabar bahwa dia akan segera berangkat berlayar ke Filipina. “Tapi, selang beberapa hari kemudian atau tepatnya Sabtu (16/04/2016) dini hari, saya mendapat telepon dari pihak perusahaan tempat anak saya bekerja. Dan mengabarkan bahwa anak saya diculik dan kini menjadi sandera teroris di Filipina,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ciparanti, Dadang, mengaku sudah menghubungi PT. Global Pertambangan Batubara Kalimantan via telepon untuk memastikan kebenaran warganya yang disandera di Filipina. “Ternyata benar, menurut pihak perusahaan Dede diduga disandra oleh kelompok Abu Sayyaf,” katanya.
Dadang menambahkan dirinya berinisitif menelpon pihak perusahaan setelah mendapat informasi terkait musibah ini dari orangtua Dede. “Saya hanya ingin memastikan saja apakah benar informasi tersebut. Karena khawatir juga orang yang menelpon bapaknya Dede hanya sebatas iseng. Tapi setelah dihubungi, ternyata benar,” ujarnya.
Menurut Dadang, setelah berkomunikasi via telepon dengan orang yang mengaku dari perusahaan, dirinya lantas disarankan untuk menghubungi pimpinan perusahaan tersebut. “Orang yang menelpon bapaknya Dede hanya staf biasa yang disuruh memberikan informasi. Jadi, kalau ingin menanyakan lebih jauh, saya harus menghubungi pimpinan di perusahaan tersebut,” katanya.
Dadang pun mengaku dirinya sudah melaporkan kasus ini ke Camat Cimerak untuk diteruskan laporannya ke Bupati Pangandaran. “Kita juga akan meminta bantuan Pemkab Pangandaran untuk melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri guna mendorong upaya pembebasan Dede,” ujarnya.
Sementara itu, Dede Irfan Hilmi pernah sekolah di SLTA Haur Kuning Salopa Tasikmalaya dan lulus pada tahun 2011. Kemudian melanjutkan pendidikan di Akademi Pelayaran BP2IP Tangerang dan lulus pada tahun 2013. Sekarang dia bekerja di PT. Global Pertambangan Batubara Kalimantan bekerja sebagai ABK. (Mad/R2/Koran-HR)