Berita Ciamis (harapanrakyat.com),- Nenek Titi, perempuan kelahiran tahun 1954, penyandang tuna netra yang tinggal sebatangkara di Dusun Sindangjaya RT 15 RW 04 Desa Neglasari Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis Jawa Barat, lolos dari perhatian pemerintah daerah. Nenek buta ini harus rela tinggal di dalam gubuk reyot berukuran 2,5 x 3 meter berlantaikan tanah dan debu.
Saat ditemui Koran HR, pekan lalu, Nenek Titi mengaku sejak ditinggal oleh kedua orang tuanya ia hidup sendirian dalam kemiskinan. Untuk mempertahankan hidupnya, Nenek Titi mengaku bekerja sebagai tukang pijit
“Meski mendapat bayaran tak seberapa, nenek suka menerima panggilan untuk memijit, karena hanya ini yang bisa nenek kerjakan. Dan itu pun tidak selalu tiap hari ada orang yang nyuruh nenek mijit. Demi untuk tetap bisa bertahan hidup, nenek juga terkadang suka bekerja mencuci pakaian tetangga,” katanya.
Ketua RT 15 RW 04, Asep Sudrajat, saat dihubungi HR, Senin (01/02/2016), mengatakan, sejak lama Nenek Titi tinggal seorang diri dalam kemiskinan. Ia pun membenarkan jika gubuk yang ditinggali Nenek Titi nyaris ambruk.
“Saya merasa khawatir dengan kondisi rumah nenek Titi saat ini. Saya pernah mengusulkan program Rutilahu. Namun katanya program tersebut kini sudah tidak ada. Selama ini nenek Titi hanya tersentuh oleh bantuan BLSM, itu pun program nyakan hanya sesaat,” kata Asep.
Asep menuturkan, pihaknya bersama warga lainnya berencana memperbaiki tempat tinggal nenek Titi. Anggaran yang akan digunakan untuk memperbaikinya merupakan swadaya dari masyarakat setempat.
“Kami berencana untuk memperbaiki rumah nenek Titi, biayanya kami tanggung bersama warga yang lain, kami juga akan mengetuk hati para dermawan untuk hal ini. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kami bisa memperbaiki rumah nek Titi,” ujarnya.
Informasi yang berhasil dihimpun HR menyebutkan, semasa kanak-kanak, nenek Titi mampu melihat secara normal. Namun saat menginjak usia 10 tahun, nenek Titi mengalami sakit panas hingga akhirnya mengalami kebutaan. Hingga beranjak dewasa nenek Titi menggantungkan hidupnya hanya kepada kedua orang tua. Dan setelah kedua orang tua meninggal, nenek Titi berjuang hidup sendirian. (suherman/Koran-HR)