Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Produksi Getah Damar (Kopal) milik Perum Perhutani KPH Ciamis di kawasan Gunung Sawal Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, tidak mencapai target. Rendahnya produksi diduga disebabkan kondisi cuaca dan jarak tanam terlalu rapat.
Maman, KRPH, ketika ditemui Koran HR, Senin (25/01/2016), di ruang kerjanya, mengatakan, dari tiga petak lahan Perhutani yang ditanami pohon damar terdiri dari petak 26 di Desa Cikupa, Kecamatan Lumbung, petak 29 D dan petak 30 D yang berada di wilayah Desa Cipaku dan Sukawening dengan Luas lahan sekitar 23 hektar.
Baca juga: Musim Kemarau, Penduduk di Lereng Gunung Sawal Ciamis Kelebihan Air
Kepada Koran HR, Maman menuturkan, target getah damar pertahun sebanyak 3.840 kilogram, namun yang tercapai hanya 3.685 kilogram. Menurut dia, rendahnya tingkat produksi akibat sering gonta-gantinya penyadap, sehingga banyak pohon yang tidak ditemukan.
Disisi lain, lanjut Maman, produksi getah damar ditentukan oleh usia tanaman dan kondisi cuaca. Pohon damar dapat menghasilkan getah sejak usia 20 tahun. Meski usianya sudah maksimal jika kondisi cuaca tidak menentu dan terlalu banyak hujan atau tidak hujan sama sekali, maka produksi getah damar menjadi tergangggu.
Ma’mun, penyadap, ketika ditemui Koran HR, mengatakan, setiap pohon rata-rata mengasilkan getah damar sebanyak 3ons dalam setiap bulannya. Rendahnya produksi getah damar dipengaruhi karen kurangnya intensitas cahaya matahari.
Selain itu, kata Ma`mun, potensi keluarnya getah secara kuantitatif dipengaruhi oleh faktor tempat tumbuh, umur, jarak tanam tinggi tegakan dan besarnya pohon.
“Sebab pohon yang terlalu rapat dan diameternya kecil mengakibatkan produksi kopal setiap pohon relatif kecil,” katanya.
Sekretaris Desa Cipaku, Elin Suherlin, ketika ditemui Koran HR, mengatakan, rendahnya tingkat produksi getah damar/ kopal bisa saja dipengaruhi oleh faktor penyadap itu sendiri. Menurut dia, para penyadap tidak mahir atau tidak menguasai teknik menyadap yang baik.
“Untuk meningkatkan produksi diperlukan pelatihan khusus tata cara menyadap yang baik dan benar,” katanya.
PPL BP3K Kecamatan Cipaku, Inding, ketika ditemui Koran HR, mengatakan, kurangnya cahaya yang masuk ke dalam tegakan menyebabkan suhu udara di dalam tegakan menjadi relatif rendah. Produktifitas sadapan kopal dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, namun pada umumnya dipengaruhi oleh ketebalan kulit batang. (dji/Koran-HR)