Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Arya bocah berusia 9 tahun ini merupakan salah satu putra dari pasangan suami istri Mijo dan Itoh, warga kampung Batukarut, RT 04 RW 01, Desa Emplak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Propinsi Jawa Barat. Sayangnya, Arya yang masih bocah ini putus sekolah lantaran masalah ekonomi.
Ketika ditemui Koran HR, belum lama ini, Arya mengaku hanya pernah masuk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Setelah itu, dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Alasannya, dia tidak mampu membeli keperluan sekolah.
“Saya tidak mau sekolah karena banyak yang mesti dibeli, seperti buku, seragam sekolah dan yang lainnya. Sedangkan orangtua saya tidak punya uang,” katanya.
Meski tahu dari kalangan kurang mampu, Arya mengaku pihak sekolah tetap mewajibkannya untuk membeli peralatan dan kebutuhan sekolah. Menurut dia, pihak sekolah tidak mau tahu kondisi keluarganya.
“Saya sudah sampaikan kondisi ekonomi keluarga, tapi pihak sekolah tetap saja meminta saya untuk melengkapi keperluan sekolah,” ucapnya.
Mijo, ayah Arya, ketika ditemui Koran HR, menuturkan, sebenarnya dia ingin menyekolahkan Arya hingga selesai. Tapi apa daya, ekonomi keluarga tidak memungkinkan Arya untuk menyelesaikan sekolah.
“Arya sebenarnya ingin sekolah seperti temen-temennya yang lain. Tapi itu tadi, saya tidak mampu membeli kebutuhan yang diwajibkan dan dibebankan oleh sekolah ke anak saya,” katanya.
Diakui Mijo, utusan dari sekolah pernah mendatanginya dan membujuk kembali Arya untuk mau bersekolah. Tapi Arya memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Arya beralasan tidak ingin membebani orang tua untuk membeli keperluan sekolah.
Ade wawan (45), tetangga Mijo, ketika dimintai keterangan, membenarkan, Mijo dan Itoh merupakan keluarga kurang mampu dari sisi perekonomian. Menurut dia, Mijo dan Itoh saat ini memiliki lima orang anak, tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan.
Kelima anak itu, kata Ade Wawan, diantaranya Usep (35), Yanti (25), Sarip (15 ), Arya (9) dan yang paling kecil Tia (4). Menurut dia, keempat anak Mijo dan Itoh mengalami putus sekolah.
“Usep pernah sekolah sampai kelas 3 SD, Yanti sampai kelas 4 SD, Sarip sampai kelas 4 SD dan Arya hanya sampai kelas 1 SD,” kata Ade.
Senada dengan itu, Toto, tetangga lainny, ketika ditemui Koran HR, berharap, pemerintah segera turun tangan menanggulangi masalah putus sekolah seperti yang dialami keluarga Mijo dan Itoh.
“Pemerintah punya program untuk mencerdaskan anak bangsa, yang direalisasikan melalui Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas). Kasus seperti ini harusnya tidak terjadi di Pangandaran. Pemerintah daerah juga harusnya mengetahui persoalan seperti ini dan tidak menutup mata,” katanya. (Ntang/Koran-HR)