Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Indeks timbulan sampah di Kota Banjar sebesar 2,25 liter/orang/hari, atau 124 ton/hari. Jumlah sebesar itu sangat fantastis untuk Kota Banjar yang kecil ini, dan tentunya akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.
Hal itu diungkapkan Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Bidang Kebersihan Dinas Cipta Karya, Kebersihan, Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (DCKTLH) Kota Banjar, Dyah Shita Asri, kepada HR, Senin (16/11/2015). Dia menilai, jika sampah tersebut tidak diolah, maka dapat dibayangkan dampak yang akan terjadi akibat sampah, baik dari segi estetika, kesehatan maupun lingkungan hidup.
“Dengan perkembangan jaman yang kian modern, teknologi pengelolaan sampah dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengurangan dan penanganan sampah yang baik. Tentu saja harus tetap mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku,” terangnya.
Namun, lanjut Dyah, penggunaan teknologi tersebut memiliki cost of change, harga dari perubahan, yaitu pengorbanan yang tidak sedikit, baik berupa materi maupun immateri. Sehingga wajar, cost of change ini akan selalu ada dan menjadi bagian dari perubahan yang harus dapat dimaknai sebagai tantangan untuk tetap maju, sekaligus menguji semangat serta motivasi.
Bentuk-bentuk teknologi itu tidak lepas dari perhatian Pemerintah Kota Banjar dalam mengelola sampahnya. Beberapa langkah awal telah dicoba diterapkan melalui kegiatan pemilahan sampah, dan bank sampah sebagai cara utama memudahkan proses pengelolaan sampah lanjutan.
Dyah menyebutkan, untuk kegiatan bank sampah, tentu akan berkisar pada teknologi guna meningkatkan nilai tambah bagi tabungan para anggota bank sampah. Sedangkan, pemilahan sampah memiliki fungsi kuat dalam pengelolaan sampah lanjutan, dimana sampah dipilah menjadi 3 bagian, yaitu sampah organik, anorganik dan residu. Langkah-langkah lanjutan menungu untuk diaplikasikan dengan baik dan benar.
“Setelah sampah dipilah, selanjutnya masing-masing hasil pilahan akan masuk pada proses lanjutan. Sampah organic, selain dapat dimanfaatkan sebagai kompos, jika kandungan cairannya tinggi dapat pula dimanfaatkan sebagai POC atau pupuk organik cair, dan jika kandungan gasnya tinggi dapat dimanfaatkan biogasnya untuk bahan bakar pengganti elpiji,” terangnya.
Tidak hanya itu saja, sampah organik dengan proses pencacahan, pengepresan dan pengeringan dengan rotary drying dapat pula dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sedangkan, untuk sampah anorganik akan dipilah lebih lanjut sesuai jenisnya.
Jenis-jenis yang memiliki nilai ekonomis akan bergabung sebagai tabungan sampah para pemilah sampah. Sementara anorganik lain yang tidak bernilai ekonomis dapat diubah menjadi produk-produk daur ulang maupun minyak plastik.
Dyah juga mengatakan, bahwa residu sampah, meski disebut sebagai residu ternyata sudah semakin banyak teknologi yang dapat mengurangi ke-residu-an sampah tersebut. Misalkan pemanfaatan residu sampah sebagai bahan batako, material pencampur pada bahan untuk pemecak ombah, stereoform diubah menjadi lempengan compact disk, atau memanfaatkan residu sampah menjadi bahan yang dimasukkan dalam thermogenerator untuk menghasilkan listrik.
“Banyak teknologi pengelolaan sampah yang ada, yang jika dinilai dengan mata uang memang memiliki nilai, tetapi jika dinilai dengan manfaat bagi manusia dan lingkungan, tentu pemanfaatan teknologi ini akan memberikan dampak yang sangat berarti bagi pelestarian lingkungan, kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya, sekaligus bagi kelangsungan hidup semua mahluk di dunia,” paparnya.
Dengan begitu, maka extremely less waste, atau bahkan zero waste bukan lagi hal yang mustahil jika perubahan pola pengelolaan sampah dilakukan secara baik, dengan menggandeng semua unsur di masyarakat untuk ikut mensukseskannya.
Karena, mau tidak mau harus menuntut perubahan perilaku masyarakat supaya mau memilah sampah pada sumbernya, agar pengelolaan sampah selanjutnya dapat lebih mudah dan lebih efektif efisien, baik dari segi waktu, pembiayaan, tenaga maupun fungsinya.
“Untuk itu, kami berharap kepada semua warga Kota Banjar, bantu kami mengelola sampah dengan baik, selalu memilah sampah sesuai jenisnya, serta menempatkan sampah pada tempat yang telah ditentukan guna kelestarian lingkungan dan kita semua. Masalah adalah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan yang terbaik,” tandas Dyah. (Eva/Koran-HR)