Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-
Untuk mensyukuri nikmat dari Allah SWT atas kesuburan tanah pertanian dan kemajuan pembangunan desanya, warga Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, secara swadaya menggelar gelar pentas seni wayang kulit semalam suntuk, bertempat di halaman kantor desa, Jum’at (23/10/2015).
Kepala Desa Rejasari, Nanang Sunarya, didampingi Sekretaris Desa, Indra, dan ketua panitia kegiatan, Nano Kaswono, saat ditemui HR disela-sela acara, mengatakan, pergelaran wayang kulit digelar dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1 Muharam 1437 Hijriah, atau 1 Sura 1949. “Alhamdulillah terlaksana dengan dana yang diperoleh dari swadaya warga,” kata Nanang.
Dia menjelaskan, pergelaran wayang kulit ini menghadirkan dalang dari Tegalsari, Sidareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sarwo Cipto Carito, dengan mengambil cerita Bima Gugat. Cerita ini tentang tokoh yang menginginkan rakyatnya mengurungkan peperangan dengan musuh, dan menjalin kebersamaan guna ketentraman hidup.
“Kerjasama antara pemdes dan seluruh masyarakat Desa Rejasari diibaratkan pergelaran wayang kulit malam ini, dimana kita saksikan di atas panggung berbagai macam alat musik dengan alunan suara yang berbeda tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh mengiringi aksi dalang dan Sinden,” tuturnya.
Untuk itu, lanjut Nanang, secara bersama satukan tekad membangun Desa Rejasari yang lebih baik. Pihaknya juga mengucapkan terima kasih atas adanya keinginan dan swadaya warga menggelar pentas budaya tersebut. Pihaknya berharap, partisipasi swadaya masyarakat pun dilakukan dalam pelaksanaan pembangunan di desa.
Sekretaris Desa Rejasari, Indra, menambahkan, bahwa pihak pemdes juga sangat mengapresiasi terhadap tekad warga yang mensyukuri nikmat dalam bulan Muharam ini, yaitu melalui pagelaran wayang kulit tanpa mengandalkan dan meminta dana dari desa.
“Selain gelaran ini sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT, tentu dalam rangka melestarikan tradisi dan menghibur masyarakat, sehingga terjalin hubungan silaturahmi diantara warga dan pemdes sendiri,” tandas Indra.
Ketua panitia kegiatan, Nano Kaswono, berharap, kedepan gelaran serupa juga dapat dilaksanakan. Sebab menurutnya, kesenian wayang kulit termasuk kesenian yang digandrungi warga Rejasari, dimana sebagian warganya berbudaya Jawa.
“Pagelaran ini menghabiskan dana kurang lebih 30 juta rupiah. Dana tersebut diperoleh dari swadaya masyarakat yang dikumpulkan per-RT, juga dari lembaga desa yang ada, termasuk para pengusaha atau dermawan setempat,” kata Nano. (Nanks/R3/HR-Online)