Kepala Dinas Pertanian Kota Banjar, beserta Kabid. Ketahanan Pangan dan perwakilan dari pihak PT. Pupuk Kudjang, serta masyarakat tani, saat panen raya dalam kegiatan Farmers Field Day di sawah demplot Raharja, Kecamatan Purwaharja. Photo: Eva Latifah/HR.
Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-
Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan) Kota Banjar, bersama PT. Pupuk Kudjang dan petani, mengadakan kegiatan Farmers Field Day (FFD), dengan menggelar demonstrasi plot padi sawah di lahan sawah seluas 1 hektare milik Kelompok Tani Tunggal Harapan, Dusun Randegan II, Desa Raharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Selasa (25/08/2015).
Kepala Distan Kota Banjar, Ir. H. Ojat Sudrajat, MM., melalui Kabid. Ketahanan Pangan, H. Basir, SP., MP., mengatakan, dalam kegiatan itu mendemonstrasikan pemupukan berimbang dan teknologi Jajar Legowo 2:1.
“Dengan pemupukan berimbang dan penerapan teknologi Jajar Legowo 2:1 pada lahan demplot tersebut, terbukti dapat meningkatkan produktifitas padi dari 8,2 ton sampai 10,5 ton per hektare,” kata Basir.
Adapun pemupukan berimbang untuk sawah seluas 1 hektare itu adalah, 2 ton pupuk organik, 250 kilogram NPK dan 150 kilogram urea. Melalui pemupukan seperti itu, lanjut Basir, maka dihasilkan produktifitas padi 8,2 ton-10,5 ton per hektare.
Bahkan, menurutnya, masyarakat tani sekarang ini telah mengakui keberhasilan dari pelaksanaan teknologi Jajar Legowo 2:1. Sehingga, mereka pun mulai menerapkan teknologi tersebut dalam kegiatan pertaniannya.
“Harapan kami dari Dinas Pertanian kepada masyarakat tani di Kota Banjar, khususnya yang telah menyaksikan FFD ini, bisa mengadopsiteknologi yang dilakukan ini, sehingga pasokan dan ketersediaan pangan di Banjar akan cukup tersedia,” tukasnya.
Basir juga mengatakan, bahwa dari hasil temu wicara dengan masyarakat tani, mereka mengusulkan adanya perbaikkan jaringan irigasi sampai di tingkat usaha tani. Bahkan, mereka pun mengajukan dibuatnya saluran irigasi talang.
“Jadi dalam hal ini, pemerintah kota harus menyediakan air untuk keberlangsungan usaha tani. Karena akan sia-sia jika para petani sudah menggunakan teknologi Jajar Legowo 2:1 dan pemupukan berimbang, tapi kebutuhan airnya tidak tercukupi,” pungkas Basir. (Eva/Koran-HR)