Bangunan Pusat Da’wah Islam (Pusda’I) tampak berada satu kawasan dengan fasilitas panggung tempat pagelaran seni dan budaya. Areal tersebut kini menjadi polemik antara seniman dan santri. Photo: Hermanto/HR
Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-
Keberadaan areal Pusat Da’wah Islam (Pusda’I) di Kota Banjar, kini menjadi polemik antara seniman dan santri. Pasalnya, dua bidang tersebut, yaitu bidang kesenian dan santri (pihak Pusda’I) tidak cocok disatukan di tempat itu.
Hal itu diungkapkan Karso, salah seorang anggota ormas Islam FPI. Menurut dia, tempat tersebut kurang pas jika disatukan dengan bidang kesenian dan budaya. Sebab, satu sisi sedang mengadakan acara keagamaan, dan di sisi lainnya mengadakan hiburan.
“Saya di sini justru akan mempertanyakan tentang perencanaannya, jangan sampai nantinya Kota Banjar malah ditertawakan oleh orang lain. Ada gedung Pusdai menyatu dengan bidang seni dan budaya,” ujarnya, kepada Koran HR, pekan lalu.
Menurut Karso, dirinya tidak mempermasalahkan bidang keseniannya, namun hal itu kurang pas saja. Mungkin salah satunya harus ada yang dikorbankan atau mengalah. Jika terus menyatu, dirinya khawatir malah akan menjadi polemik.
“Tinggal pilih saja salah satu, mau Pusda’I atau bidang keseniannya. Jika bidang kesenian yang akan dikembangkan, tinggal dibongkar saja gedung Pusda’I-nya. Tapi apakah berani membokar sebuah mesjid,” tanya Karso.
Sementara itu, sesepuh FPI Kota Banjar, Asep Samurai, menuturkan, bahwa dalam hal ini memang harus dimusyawarahkan dengan tokoh masyarakat, ulama, seniman, dan pemerintah. Karena, mau bagaimanapun mesjid merupakan tanda kebesaran agama Islam.
“Kita harus duduk bersama dan mengambil langkah yang positif untuk mengantisipasi hal-hal yang menjurus pada kemaksiatan,” ujarnya.
Menurut Asep, minimal jarak 100 meter itu aktivitasnya harus berlandaskan dengan keagamaan. Jika dalam 100 meter masih dilakukan pada hal yang mengundang kemaksiatan, maka itu tidak dibenarkan, apapun alasannya.
Ketika disinggung dengan aksi sweeping yang dilakukan FPI pada Sabtu malam di areal Pusda’I, menurutnya bahwa itu secara kebetulan saja, karena kegiatan kesenian yang sedang digelar di panggung kesenian kawasan Pusda’I durasi waktunya sudah selesai. Jadi, pihaknya tidak membubarkan acara kesenian tersebut.
“Saat kami turun melakukan sweeping, secara bersamaan kegiatan keseniannya sudah selesai, dan kami tidak sedikit pun membubarkan acara itu. Saya juga tidak mempermasalahkan terhadap seni dan budaya, karena seni merupakan kebutuhan dalam suatu kehidupan,” kata Asep.
Di tempat terpisah, Apih Aco, salah seorang seniman Kota Banjar, juga mempertanyakan mengenai awal dari perencanaan pembangunannya, apakah untuk Pusda’I atau tempat pentas seni budaya.
“Sebetulnya tidak akan menjadi masalah jika ada koordinasi yang baik antara pihak Pusda’I dan seniman. Tinggal mengatur waktunya saja, jangan sampai kegiatan Pusda’I bersamaan dengan waktu kegiatan kesenian,” katanya.
Menurut Aco, pembangunan areal tersebut memang bersamaan. Namun, dalam perencanaannya merupakan areal terbuka untuk gelar karya pemuda di bidang seni dan budaya. Tapi tiba-tiba dibangun gedung Pusda’I.
“Dalah hal itu, mungkin ada pertimbangan lain dari pihak Pemkot Banjar. Bisa saja karena lahannya tidak ada, sehingga pembangunan areal kesenian dan Pusda’I tempatnya disatukan,” kata Aco. (Hermanto/Koran-HR)