Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Meski terbilang objek wisata baru dan belum dikelola secara profesional, namun kawasan Desa Wisata Santirah Selasari yang berada di Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, terus berkembang pesat. Hal itu dibukitkan dengan jumlah kunjungan wisatawan selama kurun waktu 1,5 tahun sudah mencapai sekitar 7000 wisatawan.
“Kami mencatat jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Wisata ini dari awal dibuka sampai sekarang atau sekitar 1,5 tahun sudah berjumlah 7000 wisatawan, baik wisatawan domestik maupun luar negeri,” kata Pengelola Desa Wisata Santirah, Udin Tugaswara, kepada HR Online, Jum’at (19/06/2015).
Menurut Udin, objek wisata di Desa Selasari yang sudah dijual ke wisatawan, diantaranya Objek Wisata Goa Sutra Reregan, Objek Wisata Goa Lanang dan Objek Wisata Sungai Santirah Body Rafting. “Dari tiga objek wisata tersebut, wisatawan lebih banyak berkunjung ke Santirah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pengelola Desa Wisata Selasari, Abah Kunai, mengatakan, meski Desa Wisata Selasari belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah, namun berkat tekad dan kegigihan warga sekitar dalam mengembangkan potensi wisata kini sudah mendapat hasil yang cukup memuaskan.
“Masih buruknya infrastruktur, terutama jalan menuju ke objek wisata, bukan halangan bagi kami untuk tidak mengembangkan potensi wisata yang dimiliki di daerah ini. Justru kami mengemas kekurangan infrastruktur menjadi kelebihan dan daya tarik bagi wisatawan,” katanya.
Menurut Kunai, pihaknya sudah mensiasati agar kondisi rusaknya akses jalan menuju objek wisata tidak berekses terhadap kunjungan wisata. Caranya, kata dia, pihaknya menyediakan mobil bak terbuka untuk mengangkut para wisatawan menuju ke lokasi wisata.
“Meski akses jalan menuju objek wisata masih rusak parah, namun kami memanfaatkan kelebihan yang dimiliki. Yakni, panorama alam yang indah dan masih asri di sepanjang jalan rusak ini bisa dijual ke wisatawan,” ujarnya.
“Makanya, kami sengaja menyediakan mobil bak terbuka agar wisatawan menikmati keindahan alam dan melupakan akses jalan yang rusak ini,” katanya menambahkan.
Upaya itu, lanjut Kunai, ternyata berhasil. Karena tak sedikit wisatawan yang mengaku puas dengan pelayanan mobil bak terbuka tersebut. “ Mereka bilang, naik mobil bak terbuka menyusuri jalan rusak merupakan keasikan tersendiri,” katanya.
Kunai mengatakan, apabila wisatawan menggunakan mobil pribadinya menyusuri jalan rusak untuk menuju kawasan wisata, dirinya yakin wisatawan akan kapok datang ke Desa Wisata Selasari.
“Artinya, keterbatasan sarana dan prasarana bukan suatu halangan untuk sebuah kawasan wisata maju dan berkembang. Tetapi, sebuah kawasan wisata bisa maju, bagaimana ide dan kreatifitas si pengelola wisata itu sendiri,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Kunai, pihaknya pun sudah melatih 100 pemuda desa setempat untuk dijadikan sebagai pemandu wisata yang profesional. “ Para pemandu wisata di sini kami tekankan agar selalu memberikan pelayanan memuaskan kepada wisatawan yang berkunjung. Karena kami punya slogan, yang berbunyi, ‘jangan pernah wisatawan membawa cerita kecewa dari Selasari’,” katanya.
Menurut Kunai, pihaknya selalu menekankan kepada para pemandu harus baik dalam memberikan pelayanan terutama dari segi keamanan, fasilitas, keramah-tamahan dan membina jalinan kekeluargaan dengan wisatawan. “ Alhamdulilah, belum pernah ada wisatawan yang kecewa dengan pelayanan para pemandu disini. Justru setelah datang dari sini, mereka datang lagi dan kemudian membawa rekan dan kerabatnya,” katanya.
Kunai mengatakan, meski sudah 1,5 tahun Desa Wisata Selasari dibuka untuk umum, namun pihaknya belum memikirkan untuk mengandeng investor guna membangun hotel atau penginapan di dekat lokasi wisata.
“Karena kami ingin Desa Wisata ini dijaga keasliannya. Kalau wisatawan ingin menginap di sini, kami sudah menyediakan rumah warga yang bisa disewa. Makanya, kami belum memikirkan membangun hotel dan penginapan,” katanya. (Askar/R2/HR-Online)