Foto: Ilustrasi net/Ist.
Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-
Terjadinya fluktuatif akibat perubahan iklim yang tidak menentu, serta penerapan teknologi oleh para pengusaha pertanian yang belum sempurna, terutama pada komoditas padi, jagung dan kedelai, maka atas latar belakang itu Kota Banjar terus berupaya meningkatkan produksi maupun produktifitas ketiga komoditas tersebut.
Menurut Kabid. Ketahanan Pangan Dinas Pertanian (Distan) Kota Banjar, H. Basir, SP., MP., khusus untuk meningkatkan produksi, terutama padi, ada dua cara pendekatan yang diterapkan.
Kedua cara itu diantaranya meningkatkan profitabilitas, dan meningkatkan indeks pertanaman. Untuk meningkatkan profitabilitas di tahun 2015, dari 6,5 ton per hektare menjadi 6,5 – 6,79 per hektare. Dengan harapan, indeks pertanaman dari 2,5 harus bisa menjadi 2,8.
“Guna mencapai dua hal tersebut, ada empat teknologi yang harus dilaksanakan oleh masyarakat tani di Kota Banjar, yakni penggunaan varietas unggul baru, Jajar Legowo 2 banding 1, pemupukan harus spesifik lokasi, serta pengairan berselang atau intermitten,” kata Basir, ketika ditemui HR di ruang kerjanya, Senin (11/05/2015).
Adapun rekomendasi varietas unggul baru di tahun 2015 ini meliputi, bagi wilayah rawan banjir harus menggunakan varietas padi inpara 3, 4, 5, inpara 29,30, kemudian binih padi Kapuas Batanghari.
Sedangkan, bagi wilayah yang rawan kekeringan/sawah tada hujan, sebaiknya masyarakat tani menanam inpari 10, 18, 19, Situpang dan Situbagendit. Kemudian, wilayah yang rawan terserang hama wereng dan batang cokelat, gunakan padi inpari 6, 10, 13, 18, 19, dan Menkongga. Kalau wilayah yang sering diserang penyakit hama keresek, maka gunakan inpari 1, 4, 6, 11, 17, 18, 19 dan inpari 32.
Basir menambahkan, pihaknya menghimbau kepada masyarakat tani untuk bisa merubah perilaku tanam, yakni dari sistim tanam tegil menjadi sistim pola tanam Jajar Legowo 2 banding 1, dan gunakan pupuk sesuai anjuran PPL.
“Gunakan sistim Jajar Legowo 2 banding 1, karena sistim ini mempunyai efek tanaman pinggir, kemudian turbulensi udara ada kemudahan bagi pengusaha tani dalam pengolahannya, dan berpeluang pula untuk pengusaha mina padi,” pungkasnya. (AM/Koran-HR)