Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Situs cagar budaya Embah Dalem Adipati Tambakbaya atau dikenal dengan sebutan Situs Kokoplak yang memiliki luas lahan sekitar 1 hektare di Dusun Pananjung, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, merupakan tempat yang kerap dikunjungi peziarah dari luar daerah.
Konon, keberadaan situs tersebut bermula dari cerita mengenai Raden Adipati Singaperbangsa II Dalem Tambakbaya (1630-1641 M), putra Adipati Kertabumi II atau Raden Adipati Singaperbangsa I, mendapat gelar Dalem Tambakbaya karena berjasa telah membuat tambak sebagai pusat pertanian di daerah baru, yakni Liunggunung.
Raden Adipati Singaperbangsa II menikah dengan Nyi Mas Raja, putri Dalem Wiramantri dari Rajadesa. Hasil pernikahannya dikaruniai empat orang anak, diantaranya Singa Perbangsa III, Nyi Ajeng Kirtanaya, Singarate dan Singabaya. Setelah wafat, Adipati Singaperbangsa II atau Adipati Tambakbaya dimakamkan di Situs Kokoplak Banjar.
Namun, di balik sejarah tentang awal mula keberadaan Situs Adipati Tambakbaya, serta kepercayaan para peziarah yang melakukan ritual do’a di makam tersebut dengan maksud untuk penghasilan dagang, usaha maupun kepangkatan jabatan, ternyata Kokoplak juga menyimpan sejumlah cerita mistik yang dipercaya kebenarannya oleh masyarakat sekitar.
Seperti diungkapkan Roni (34), salah seorang warga yang tinggal tak jauh dari lokasi tersebut. Saat dijumpai HR, Senin (26/01/2015), dirinya menceritakan seputar kejadian-kejadian aneh yang dialaminya sendiri maupun warga lainnya.
“Warga di sini sering melihat adanya ular berukuran sebesar paha orang dewasa. Ular berwarna hitam dan kuning itu diyakini bukan ular sebenarnya, sehingga tidak ada satu orang pun warga yang berani menangkapnya. Berbeda kalau melihat ada ular sanca atau jenis lainnya, pasti berani nangkap,” tuturnya.
Bahkan, lanjut Roni, dirinya juga pernah melihat keberadaan ular tersebut ketika menjemput saudaranya di Terminal Bis Banjar. Saat itu sekitar jam 19.30 WIB, dia dan saudaranya dari terminal hendak pulang ke rumahnya dengan menggunakan mobil.
Agar jarak yang ditempuhnya tidak terlalu jauh, mereka mengambil jalan pintas melalui jalur ke lokasi tersebut. Namun, begitu sampai tepat di depan gapura masuk situs, laju mobilnya terhenti lantaran mereka melihat ada seekor ular besar yang menghalangi jalan.
“Cukup lama kami berhenti karena menunggu ular itu pergi, sebab yang terlihat hanya bagian badannya yang menghalangi jalan, sedangkan kepalanya ada di ujung seberang bagian kanan jalan, dan ekornya di ujung seberang kiri,” ucapnya.
Setelah cukup lama menunggu, tetapi ular tersebut tidak berjalan sedikit pun. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk memutar balik arah melewati jalan ke Gunung Gembok, Desa Pananjung, Kec. Pataruman.
Roni mengaku, ketika menunggu cukup lama itu, dirinya pun sempat berfikir bahwa ular tersebut bukanlah ular sebenarnya. Sebab, dia teringat beberapa cerita dari warga lainnya yang mengalami hal serupa.
“Waktu itu jelas bulu kuduk saya terasa merinding, begitu pula yang dialami saudara saya, apalagi saudara saya itu bukan asli warga Dusun Pananjung, tapi Kuningan,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, begitu tiba di rumah, mereka menceritakan mengenai kejadian yang dialami di jalan kepada keluarganya. Namun, pihak keluarganya mengatakan kalau ular itu bukan lah ular sebenarnya.
Tetapi, ada satu orang saudaranya yang penasaran ingin melihat dan mengajak balik lagi ke lokasi dimana ular tersebut ditemukan. Akhirnya, Roni dan kedua orang saudaranya itu kembali lagi ke jalan sekitar Situs Kokoplak guna memastikan apakah ular itu masih ada atau sudah pergi. Sesampainya di lokasi ternyata sudah tidak ada.
“Sebelumnya, pada saat kita putar balik hendak melalui jalur Gunung Gembok, di sekitar jalan Kokoplak itu kan sedang ada beberapa warga yang tengah membakar bata merah. Kita memberitahu mereka supaya hati-hati karena di jalan dekat Situs Kokoplak ada ular besar. Tapi mereka malah menjawab bahwa hal itu sudah biasa mereka lihat dan menghilang sendiri,” tutur Roni. (Eva/Koran-HR)