Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Banjar, Jawa Barat, Drs. Asep Tatang Iskandar, M.Si., mengakui, bahwa memang di Banjar tengah terjadi krisis SDM tenaga kerja, khususnya pencari kerja asal Kota Banjar yang hanya ingin mendapatkan pekerjaan langsung menempati posisi enak.
“Kalau tidak mau merintis sebuah pekerjaan dari bawah, ya susah. Dan itu harus diingat, kemampuan masing-masing pencari kerja, sejauh mana kompetensinya. Jangan hanya yang dipikirkan bekerja sebagai PNS atau pekerja kantoran,” katanya.
Bila tidak ingin meniti karier, mereka harus mampu mandiri. Misalnya, membuka usaha atau mendirikan kantor sendiri. Asep juga mengakui, di sejumlah pabrik di Banjar, pekerja asli warga Banjar rata-rata hanya bertahan selama tiga bulan.
Mereka meminta berhenti bekerja dengan alasan capek. Pola pikir seperti itu harus di rubah, khususnya, bagi warga yang membutuhkan pekerjaan. Karena, tidak ada pekerjaan yang tidak capek.
Upaya menanggulangi masalah pengangguran di Kota Banjar, Dinsosnaker sebenarnya sudah banyak memfasilitasi lowongan pekerjaan. Salah satunya, membuka lapangan pekerjaan melalui beberapa perusahaan, hingga menyelenggarakan kegiatan pelatihan-pelatihan.
“Masalah ini bukan hanya tanggung jawab kami, tapi lembaga atau OPD terkait lainnya harus mengupayakan peningkatan SDM. Seperti halnya di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan harus mampu memberi pemahaman, dan mengarahkan anak didiknya di sebuah bidang pekerjaan,” tuturnya.
Menurut Asep, pendidikan setinggi apapun, apabila tidak disertai kompetensi tinggi, maka akan dikalahkan oleh tenaga kerja terampil dan terlatih, sekalipun hanya memiliki ijazah jenjang pendidikan lebih rendah.
Krisis SDM seperti ini, tenaga kerja terlatih jauh lebih utama dibandingkan dengan tenaga kerja terdidik. Oleh karena itu, dibutuhkan lembaga pelatihan, dan peningkatan kualitas kurikulum pelatihan, daripada lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan tapi belum siap kerja.
Dia menambahkan, tenaga kerja yang lebih terlatih akan memiliki produktivitas lebih tinggi di dalam dunia kerja dan dunia usaha. Sehingga, pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan, kesejahteraan dan kualitas hidupnya. (Nanang/HR-Koran)