Banjar, (harapanrakyat.com),- Sejumlah pedagang asongan statsiun Banjar, setelah dilarang berjualan di kereta dan didalam statsiun. Kini mereka untuk bertahan hidup, terpaksa berjualan dipintu masuk statsiun. Nasib mereka seolah tak ada yang memperdulikan.
Pengupayaan pengalihan lokasi berdagang sebagai solusi untuk mereka mampu bertahan hidup, dirasakan tak secepat laju kereta api di negeri ini yang konon semakin membaik.
Sementara kebutuhan hidup ditengah pasca pengurangan subsidi BBM oleh pemerintah, dirasakan semakin mencekik kehidupan mereka.
“Keinginan kami tak besar. Hanya berharap kepada kepala statsiun, sebelum ada kompensasi dari Pemkot Banjar, atau PT KAI, sekiranya diizinkan berjualan dulu dalam statsiun,” harap Eti (37), salah seorang pedagang asongan pada HR Online, Senin, (08/12/2014).
Hingga kini nasib mereka belum ada kepastian, sementara roda kehidupan tak bias berkompromi dengan mereka. “Berjualan di depan pintu statsiun membuat usaha kami sepi, dan omzet tiap hari turun drastis, tidak seperti dulu,” kenang Eti.
Rasmini (42), pedagang asong lainnya, mempertanyakan upaya serius dari DPRD Kota Banjar dan pihak Pemkot Banjar. “Saya menagih janji DPRD Banjar, yang saat beraudensi berjanji akan merelokasi tempat berjualan kami. Tapi mana, hingga kini nasib kami semakin terpuruk,” keluhnya.
Padahal, pihak Disperindagkop Kota Banjar beberapa waktu lalu sempat berdialog dengan sejumlah pedagang asong. Akan tetapi, pihak Disperindagkop berkilah apa yang diminta pedagang harus disesuaikan terlebih dahulu dengan anggaran yang tersedia.
Dibawah naungan Paguyuban pedagang asongan stasiun Banjar, yang waktu itu berdialog dengan pihak Disperindagkop, menurut Rasmini, telah dicapai kesepakatan di kedua belah pihak.
“Kesepakatan telah tercapai saat itu, kini kami lagi-lagi harus menunggu atas keberlangsungan nasib kami,” tukasnya dengan nada lirih. (Nanang S/R1/HR-Online)