Taman Alun-alun Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat.
Banjar, (harapanrakyat.com),-
Selain pasangan muda-mudi yang sering terlihat nongkrong di taman Alun-alun Langensari Kota Banjar, Jawa Barat, kini di lokasi tersebut juga kerap dijadikan tempat kongkow komunitas Lelaki Suka Lelaki (LSL).
“Alun-alun Langensari kalau malam hari, apalagi malam Minggu, bukan hanya pasangan muda-mudi saja yang pacaran,tapi juga kaum sesama jenis, yaitu LSL. Kalau lewat ke alun-alun sekitar jam 10 lebih, saya sering melihat kaum sesama jenis, yaitu laki-laki dengan laki-laki saling berangkulan,” kata Rika Setiawati, kader Warga Peduli AIDS (WPA), sekaligus pembina PIK-R Kec.Langensari, kepada HR, Sabtu (06/12/2014).
Menurut Rika, perilaku semacam itu harus menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya LSL merupakan ciri prilaku menyimpang, dimana komunitas ini rentan tertular penyebaran HIV-AIDS.
Informasi yang diperolehnya dari data KPA Kota Banjar, tercatat LSL yang berkeliaran disekitaran Kota Banjar jumlahnya mencapai 1.648 orang, dan keberadaan mereka tersebar di empat kecamatan.“Mereka kesemuanya belum terbuka, masih tertutup, sehingga sulit dilacak,” ujarnya.
Sedikitnya ditemukan sekitar enam orang dari jumlah 1.648 anggota komunitas LSL yang terinfeksi HIV-AIDS selama kurun waktu 2013-2014. Data itu diperoleh setelah dilakukan Voluntary Counseling Test (VCT) HIV terhadap komunitas tersebut.
Rika juga menyebutkan, selain komunitas LSL, potensi penyebaran HIV-AIDS juga terjadi pada laki-laki yang sering bergonta-ganti pasangan atau biasa disebut Laki-laki Beresiko Tinggi (LBT).“Anggota komunitas LSL ini biasanya mereka ada juga yang beristri, sehingga sangat dikawatirkan jika menular di keluarganya,” katanya.
Menurut Rika, LSLmaupun LBT termasuk kelompok yang sulit terdeteksi peredaran HIV-AIDS-nya, sebab kesadaran mereka untuk memeriksakan diri melakukan tes HIV masih kurang.
Berdasarkan data yang tercatat di KPA Kota Banjar, hingga 2014 ini ada sekitar 17 orang penderita HIV positif di Banjar yang sudah dalam pendampingan para relawan. Tugas para relawan ini memberikan pendampingan secara mental, dan mengingatkan untuk minum obat secara berkala, sesuai dengan ketentuan.
Peningkatan jumlah komunitas LSL di Kota Banjar, tidak terlepas dari makin terbukanya masyarakat kita terhadap keberadaan komunitas tersebut. Perilaku ini lah yang perlu diawasi dari potensi penyebaran HIV-AIDS.
“Selain itu, kelompok LBT yang sudah HIV positif perlu diawasi, karena biasanya mereka mempunyai perasaan dendam untuk menularkan pada pasangan bercintanya,” ujar Rika.
Sebagai upaya pencegahan, dirinya berharap kedepan pemerintah kota, dalam hal ini dinas terkait, harus mempunyai lebih banyak alat tes HIV. Karena selama ini ketika pihaknya akan melakukan kegiatan tes HIV seringkali Puskesmas kekurangan alat. (Nanang/R3/HR-Online)