Jembatan Cikacepit dan Pangbongkongan sampai saat ini masih membentang di antara dua tebing terjal walau sudak tidak seutuhnya lagi. Demikian juga terowongan Hendrik, Juliana dan terowongan Wilhelmina. Uniknya Wilhelmina dilengkapi sejumlah persinggahan di kiri kanan terowongan untuk berlindung para pejalan kaki manakala ada kereta yang lewat. Wilhelmina atau Helena Paulina Maria adalah ratu kerajaan Belanda (1890-1948).
Kesemua itu menjadi bagian dari “saksi bisu” masa jayanya kereta api Banjar-Pangandaran-Cijulang. Jalur kereta api berikut ketiga terowongan dibangun Staat Spoorwegen (SS) pemerintahan kolonial Belanda tahun 1914 dan mulai digunakan tanggal 1 Januari 1921. Jika saja suatu saat nanti kereta api dihidupkan lagi, tentu saja menjadi alternatif bagi wisatawan domestik dan mancanagara.
Sementara bagi orang-orang yang pernah menggunakan kereta api itu puluhan tahun silam seakan diajak bernostalgia mengurai kenangan lama. Kereta api Banjar-Pangandaran ketika masih ditarik lokomotif “Si Kuik” produk Jerman digerakan ketel uap. Atau pun setelah diganti lokomotif diesel menjadi sahabat karib masyarakat dari ragam usia dan status sosial. Setiap hari tak pernah surut penumpang terlebih lagi suasana lebaran, tahun baru dan libur panjang.
Tempat duduk pada setiap gerbong berada di sebelah kiri-kanan dan tengah. Bagi yang tidak kebagian tempat duduk, maka tempat petugas erem disetiap gerbong atau tempat lainnya yang beresiko terpaksa menjadi pilihan ketimbang menunda perjalanan. Pemberangkatan pertama dari Banjar pkl 04.00 dinihari dan kedua pkl 14.00. Dari Pangandaran waktunya sama namun kadangkala perjalanan mendadak batal apabila terjadi gangguan tehnis.
Bagi mereka yang tertunda perjalanan jadual kedua memanfaatkan sejumlah penginapan sekitar stasiun. Jika merasa lapar tinggal melangkah menuju halaman stasion sebelah selatan banyak pedagang nasi, pisang goreng dan kuliner lainnya. Mereka bejualan sejak sore sampai lewat dinihari kebanyakan menggunakan pikulan. Andaikata ingin hiburan selain menonton film di bioskop Kenanga atau bioskop Saudara, juga menonton hiburan wayang orang di jalan Letjen Soewarto.
Meski panggung pentas serta ruang penonton relatif sempit dan sederhana namun tidak pernah surut penonton apalagi jika malam minggu. Nama dalang Kentar waktu itu seakan sudah menyatu dengan para penonton wayang orang yang mementaskan alur ceritera tentang kerajaan, kepahlawanan dan alur ceritera lainnya. “Menonton wayang orang waktu itu mengasyikan dan menyimpan kenangan sendiri sendiri.” kenang sejumlah warga Banjar.
Pada siang hari sesekali terdengar suara hatong lokomotif “Si Kuik” jika sedang langsir atau diperbaiki di ruangan bengkel. Suara yang khas itu bertaut dengan hatong lokomotif “Si Kuong” ketika akan bertolak dari stasion terasa sekali menambah keramaian suasana. Jika lokomotif “Si Kuik” atau “Si Kuong” memerlukan air untuk mengisi ketel uap mengambil dari pompa di daerah Jelat memanfaatkan ait Sungai Citanduy. Selama perjalanan Banjar-Pangandaran
Selama perjalanan para penumpang dapat menangkap suasana kehidupan alam pelosok juga mencicipi ragam kuliner spesifik yang dijumpai di setiap halteu. Ketika berhenti di halteu Banjarsari dijumpai para penjaja rebus pisang lampeneng, buah nangka, rebus kacang tanah dan penganan lainnya. Di halteu Padaherang pedagang nasi bungkus dengan lauk pauk goreng ikan gabus, paray lengkap sambal tempe. Ikan gabus dan paray didapat dari sejumlah rawa yang terhampar di daerah Padaherang. Sedangkan di halteu Kalipucang pedagang “rampeyek” udang, sate kerang dan telur asin. Teriakan para pedagang itu terdengan nyaring lewat pintu atau jendela.
Kadangkala terdengar rengekan anak kecil dalam gendongan ibunya karena kepanasan. “Untuk mengusir kejenuhan sehingga ayunan langkah penumpang yang turun di setiap halteun diperhatikan sampai hilang di tikungan jalan setapak. Atau setelah ditelan kerimbunan pepohonan di pelosok kampung diujung senja,” kenang sejumlah warga pengguna kereta api masa itu.
Karena begitu kentalnya hubungan antara masinis “Si Kuik” dengan masyarakat, sehingga sewaktu waktu kereta api bisa berhenti di luar halteu manakala ada penumpang yang akan turun atau naik. Masyarakat yang berdomisili disepanjang jalur kereta bilamana sedang bekerja di ladang atau aktifitas lainnya dihalaman rumah. Merek sudah terbiasa berbalas lambaian tangan dan teriakan dengan para penumpang kereta api walau pun di antara mereka sama sekali tak saling mengenal.
Kereta api Banjar-Pangandaran waktu itu berperan juga menjadi sarana menjalin persaudaraan antar sesama penumpang. Dari pembicaraan kecil sekedar basa basi dengan penumpang didekatnya berkembang jauh menyangkut kepada masalah keluarga, rumah tangga dan persoalan lainnya dalam kehidupan yang mereka arungi sehari hari. Bahkan tidak menutup kemungkinan bagi lawan jenis bermula dari ucapan minta maaf karena tersenggol atau terinjak saat akan naik berdesakan berlanjut kepada pembicaraan yang lebih akrab.
“Saya juga waktu itu dari Tasikmalaya jika akan apel ke Parigi, pulang pergi menggunakan kereta api,” kenang seorang pengemudi bus asal Tasikmalaya. Manakala kereta api “Si Kuik” akan masuk, bertolak dari setiap halteu atau menjelang masuk dan akan keluar terowongan hatongnya berbunyi seperti menjerit jerit pilu atau parau mengusik kesunyian. Seolah olah mengantar kepergian asap hitam bercampur percikan api dari cerobong ketel uap yang berhamburan sepanjang jalan.
Sedangkan suara lokomotif “Si Kuik” seperti mendengus dengus kepayahan karena deraan usia. Setelah lewat tiga terowongan dan dua jembatan di daerah Kalipucang para penumpang bersukaria. Sebab dari situ selain terlihat hamparan pantai karapyak dan lembah putri juga tak berapa lama lagi sampai di Pangandaran. Namun begitu, “sahabat karib” masyarakat dari ragam usia dan status sosial itu berahir juga.
Akar masalahnya karena Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) selalu menanggung rugi Karena hasil dari penjualan ticket jauh tidak seimbang dengan biaya operasional. Maka terhitung tanggal 3 Februari 1981 pengoperasian kereta api Pangandaran dihentikan sedangkan dari Pangandaran-Cijulang lebih dahulu. Tahun 1998 ketika Sekda Ciamis, Drs H. Remi Tjahari, MPIA mantan anggota wanadri “Lawang Angin” Unpad Bandung memperkenalkan sisa-sisa “saksi bisu” masa jayanya kereta api yang padat teknologi itu kepada masyarakat melalui Wisata Lintas Alam (WLA).
Kegiatan itu diikuti karyawan dinas/instansi dan umum yang bertolak dari alun-alun Kalipucang masuk masuk Dusun Warungbungur. Dari situ mentelusuri bekas jalur kereta api dan masuk ketiga terowongan dan berahir di wana wisata karangnini. Waktu itu Remi Tjahari dan wakil bupati, Drs H. Maman A.Rachman menyebrang jembatan Cikacepit menggunakan lori yang “digoel” petugas Perumka Banjar. Kegiatan WLA pertama berlanjut kepada yang kedua dan ketiga.
Namun mungkin karena dihandang berbagai faktor sehingga kegiatan tidak berlanjut lagi. Pada pertemuan para pengusaha internasional di Abudabi Uni Emierat Arab Desember 2010, Wilhelmina Heritage dan Pangandaran Ocean Park oleh Dra. Lilis Kusumawati, M.Si, ketika itu masih Kabid Destinasi Disbudpar Ciamis ditawarkan kepada mereka dalam bentuk proposal. (Suherman DS/HR-Online)