Metode pengolahan sampah berupa buang, tumpuk, angkut dan timbun membebani tempat pembuangan akhir sampah dan meningkatkan biaya. Masyarakat dan pengelola kawasan memiliki kewajiban untuk mengurangi dan mengolah sampah sehingga menghasilkan residu minim.
“Siapa yang menghasilkan sampah, dia bertanggung jawab mengelola. Jadi mindset-nya bukan lagi membuang sampah, tetapi mengelola sampah menjadi material berharga,” kata Nirwono Yoga, ahli tata kota dari Universitas Trisakti, Jumat (21/2), di Jakarta.
Langkah dasar yang bisa dilakukan tiap rumah tangga adalah memisahkan sampah sisa dapur atau makanan dari sampah plastik, kertas, dan lainnya. Sampah sisa dapur dibusukkan menjadi pupuk kompos. Jika tidak memiliki pekarangan seperti apartemen atau kawasan padat penduduk, pengomposan bisa dilakukan secara komunal.
Pengolahan ini signifikan mengurangi produksi sampah rumah tangga 60 persen berasal dari sampah organik. Sisanya 14 persen plastic, 9 persen kertas, dan campuran logam, karet, kain dan kaca. Sampah non organik ini bisa dikumpulkan dan diserahkan ke bank sampah atau dipilah pemulung.
Dengan cara itu, volume sampah berkurang sehingga beban pengelolaan sampah pemerintah pun menurun. Kebutuhan untuk menambah truk, tenaga kebersihan, dan biaya angkut bisa teratasi karena volume sampah berkurang.
Di Jakarta saja, untuk penanganan sampah, Pemrov DKI menggelontarkan dana Rp 943 miliar per tahun (Kompas, 17/2), belum lagi dari pemerintah di daerah lain. Adapun Kementerian Pekerjaan Umum tahun ini mengalokasikan dana Rp 650 miliar untuk pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) sanitary/ controlled landfill dan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST).
Meski dana yang dikeluarkan sangat tinggi, masih banyak sampah yang tak terangkut. Masih jamak pula sampah dibuang di sungai yang kemudian menyebabkan banjir.
Pengomposan
Proses membuat kompos bisa dilakukan di pasar-pasar Jakarta dan kota lain, did mana lebih dari 90 persen sampah berupa sisa sayur dan buah. “selama ini sampah dari pasar hanya dibuang ke TPA. Seharusnya, pengelola pasar bisa bekerja sama dengan dinas kebersihan untuk pengomposan. Hasilnya bisa digunakan dinas pertamanan untuk pemupukan taman-taman kota,” ujar Nirwono.
Nirwono mengatakan, langkah ini bisa berjalan jika kepala daerah berkomitmen dan menggerakkan jajarannya untuk mengurangi, mengolah, dan memanfaatkan sampah. Kalau sampah hanya dibuang ke TPA seperti ini, suatu saat kapasitas TPA akan terlampaui dan harus mencari tempat lain.
Secara terpisah, Asisten Deputi Pengelolaan sampah KLH R Sudirman mengatakan, pihaknya berusaha menghimpun komitmen pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pengolahan sampah, antara lain lewat mekanisme penghargaan Adipura.
Pada penilaian Adipura tahun ini, KLH memasukkan kawasan real estate, apartemen, permukiman, dan industry menjadi bagian dari 19 poin penilaian. “Yang kami harapkan, pemda bisa menekan pengelola kawasan untuk memilah dan mengolah sampah,” katanya.
Sudirman mengingatkan kewajiban pengurangan, pengelolaan, dan pengolahan sampah menjadi tanggung jawab setiap penghasil sampah. Jika tanggung jawab ini dilakukan, timbunan sampah secara nasional yang mencapai 200.000 ton per hari, sekitar 73 juta ton per tahun, bisa jauh berkurang. “Kondisi saat ini, pengelolaan sampah secara umum belum baik, tapi ada contoh baik pengolahan sampah yang bisa ditiru,” katanya . beberapa kawasan permukiman telah membentuk bank sampah dan mengelola sampah secara komunal, misalnya di Malang dan Bantul.
Semoga Rumahmu Membuat Bahagia
Mengasingkan diri yang diajarkan syariat dan sunah Rasul adalah menjauhkan diri dari kejahatan dan pelakunya, orang-orang yang banyak waktu kosongnya, orang-orang yang lalai, dan orang-orang yang senang membuat huru-hara. Dengan begitu, jiwa Anda akan selalu terkendali, hati menjadi tenang dan sejuk, pikiran selalu jernih, dan akan Anda akan merasa leluasa dan bahagia berada di taman-taman ilmu pengetahuan.
Mengasingkan diri (uzlah) dari semua hal yang melalaikan manusia dari kebaikan dan ketaatan merupakan obat yang sudah diuji coba dan dibuktikan kemujarabannya oleh para ahli pengobatan hati. Banyak cara untuk menjauhkan diri dari kejahatan dan permainan yang sia-sia. Diantaranya adalah; mengisi waktu dengan menyuntikkan wawasan baru ke dalam akal pikiran, menjalankan semua hal yang sesuai dengan kaedah “takut kepada Allah”, dan juga menghadiri majelis-majelis pertaubatan dan dzikir. Betapapun, perkumpulan atau majelis yang terpuji dan patut dikunjungi adalah yang digunakan untuk menjalankan shalat berjamaah, menuntut dan mengajarkan ilmu, atau untuk saling membantu dalam kebaikan. Maka dari itu, hindarilah majelis-majelis yang tidak jelas tujuannya dan tidak pula berguna! Jaga kesucian kulit Anda, tangisilah kesalahan Anda dan jagalah lidah! Semoga, dengan itu rumah Anda dapat membahagiakan hati Anda.
Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan merupakan serangan mematikan bagi jiwa dan ancaman yang membahayakan keamanan dan kedamaian diri Anda. Pasalnya, melakukan hal itu berarti Anda telah bergaul dengan setan-setan pembisik desas-desus, penebar kabar bohong, peramal bencana dan petaka, dan itu, akan membuat Anda mati tujuh kali dalam sehari sebelum Anda benar-benar mati, Maka,
{Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka.}
(QS. At-Taubah: 47)
Atas dasar itu, harapan saya adalah supaya Anda menjalani bagaimanapun kondisi Anda, tetap menyendiri di ‘kamar’ Anda dan hanya keluar untuk berkata atau berbuat baik saja. Pada saat seperti itu hati Anda akan benar-benar menjadi milik Anda, sehingga waktu dan umur Anda selamat dari kesia-siaan, lidah Anda terhindar dari menggunjing (ghibah), hati Anda bersih dari kerisauan, telinga Anda terjauhkan dari ucapan kotor, niscaya akan mengetahuinya. Dan jiwa Anda bebas dari berburuk sangka. Barangsiapa mencoba sesuatu, niscaya akan mengetahuinya. Barangsiapa membiarkan dirinya hanyut dalam gumpalan kasak-kusuk dan terseret ke dalam komunitas orang-orang yang tidak berilmu, serta senang berbuat yang sia-sia, maka katakan kepadanya: selamat tinggal! ***