Ciamis, (harapanrakyat.com),- Setelah sekitar 175 hektar areal persawahan di Kecamatan Lakbok dan Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, pekan lalu, terendam banjir akibat saluran irigasi apur mengalami pendangkalan, membuat target produksi beras Kabupaten Ciamis tahun 2014 terancam gagal.
Pasalnya, apabila hektaran sawah di dua daerah tersebut mengalami gagal panen, otomatis akan berpengaruh besar terhadap produksi beras Kabupaten Ciamis. Sebab, Kecamatan Lakbok dan Purwadadi, merupakan daerah terbesar pemasok target beras Kabupaten Ciamis.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis, Ir. Kustini, didampingi Kabid Sumber Daya Ir. Tini Lastiniwati, mengatakan, apabila saluran irigasi apur tidak segera dilakukan normalisasi, kemungkinan terjadi banjir yang merendam areal persawahan di Kecamatan Lakbok dan Purwadadi, akan terjadi kembali.
“Banjir yang merendam ratusan hektar sawah di dua daerah tersebut sudah menjadi bencana tahunan. Hal itu disebabkan dari pendangkalan saluran irigasi apur, “ terangnya, kepada HR, Selasa (11/02/2014).
Menurut Tini, pihaknya sudah mengajukan proposal ke BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Citanduy untuk segera dilakukan pengerukan di saluran irigasi tersebut. “Dari tahun lalu, proposal tersebut sudah kami kirim. Kami pun kemarin sudah meminta kembali agar pihak BBWS segera melakukan normalisasi terhadap saluran irigasi tersebut, “ ujarnya.
Menurut Tini, Kecamatan Lakbok adalah penghasil padi terbesar di Kabupaten Ciamis dengan pasokan 56.392 ton per tahun. Sementara Purwadadi merupakan penghasil padi ketiga dengan pasokan 33,457 ton per tahun.
“Apabila cuaca tidak menentu dan terus diguyur hujan, kami pun khawatir akan berdampak terhadap masa tanam padi di dua daerah tersebut, “ terangnya.
Namun demikian, Tini mengatakan, meski muncul ancaman akan menggangu masa tanam padi di dua daerah tersebut, pihaknya masih optimis target produski beras Kabupaten Ciamis tahun 2014 sebanyak 554, 950 ton bisa terealisasi. “ Karena kami memiliki daerah pengasil Padi di daerah Ciamis Utara yang memiliki saluran irigasi normal. Seperti daerah Panumbangan, pasokan produksi padinya lumayan cukup tinggi, “ katanya.
Tini menjelaskan, meski ratusan hektar sawah di Kecamatan Lakbok dan Purwadadi terendam banjir, namun tidak ada kerugian materil. Karena saat terjadi banjir, petani setempat belum melakukan penanaman.
“Karena petani di sana sudah memprediksi berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, bahwa di saat musim hujan, pasti akan terjadi luapan banjir dari irigasi tersebut. Akhirnya mereka tidak melakukan penanaman, “ ujarnya.
Hanya, lanjut Tini, kalau dilihat dari waktu tanam, memang petani mengalami kerugian. “Harusnya saat ini mereka sudah mulai melakukan penanaman. Tetepi, akibat banjir ini, mereka jadi pikir-pikir lagi menanam padi,” terangnya.
Tini mengungkapkan, petani setempat pun kini mulai khawatir hujan lebat dengan intensitas tinggi kembali turun di saat mereka melakukan penanaman. “Solusinya hanya satu, BBWS segera melakukan pengerukan saluran irigasi apur. Jika begitu, hasil tanam padi di dua daerah tersebut akan normal kembali,“ pungkasnya. (Bgj/Koran-HR)