Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, sekaligus dalang yang tinggal di Desa Cibenda, Kecamatan Parigi, Rojikin Supriadi Putra, didampingi seorang aparat pemerintahan Kecamatan Parigi, tengah menunjukan wayang golek hasil buatannya. Fhoto : Entang Saeful Rachman/HR.
Parigi, (harapanrakyat.com)
Seiring dengan perkembangan teknologi modern saat ini, kesenian tradisional wayang golek menjadi kurang diminati masyarakat, khususnya di Pangandaran. Hal itu diakui Rojikin Supriadi Putra, Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, sekaligus dalang yang tinggal di Desa Cibenda, Kecamatan Parigi.
Menurut Rojikin, seni budaya leluhur itu sudah ada sejak jaman dulu, dan digunakan sebagai alat dalam penyebaran agama Islam oleh para kyai di sebuah mesjid. Kisah ini didapat dari orang tuanya yang juga seorang dalang pada saat dirinya masih duduk dibangku Sekolah Dasar.
“Saat saya masih kecil, saya sudah menggeluti seni wayang golek, mulai dari cara membuat wayangnya sekaligus cara berdalang,” kata Rojikin, ketika ditemui HR, Senin (13/02/2014).
Namun, lanjut dia, ketika usianya sudah mulai beranjak dewasa, tepatnya pada tahun 1996, Rojikin mulai memberanikan diri untuk belajar dalang ke salah satu dalang ternama di Karawang, Jawa Barat.
Sejak saat itu Rojikin sering ikut tampil sebagai dalang wayang golek disetiap pertunjukan. Bahkan, tahun 2008 dirinya sudah mengantongi akta pendirian dan ijin operasional untuk membuka usahanya sebagai group wayang golek di Cibenda, Kecamatan Parigi.
“Saya pun pernah menjuarai dibeberapa perlombaan antar dalang se-Jawa Barat bertempat di Bandung. Bahkan sampai di acara festival Binojakrama Padalangan Jabar pada tahun 2010 di Pangandaran, 2012 di Bandung, dan tahun ini akan dilaksanakan di Karawang,” pungkasnya. (Ntang/R3/HR-Online)