Setiap tahun pada 25 November, diperingati sebagai Hari Guru di negeri kita. “Hormati guru mu sayangi teman itu tandanya murid yang budiman”. Syair lagi itu hampir setiap murid sekolah pasti banyak yang tahu lagu itu, lagu itu mulai di senandungkan dari anak-anak taman kanak-kanak, dan Sekolah Dasar (SD). “Tut Wuri Andhayani. Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun Karsa” Dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Pada anak-anak didiknya.
Pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari perjuangan Perguruan Taman Siswa yang berdiri 3 Juli 1922. Taman Siswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya. Bagai Taman Siswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan bathin. Merdeka lahiriah, artinya tidak dijajah secara fisik, ekonomi, politik dan sebagainya. Sedangkan merdeka secara batiniah adalah mampu mengendalikan keadaan.
Berbicara Taman Siswa tidak bisa lepas dari pendirinya yaitu Raden Mas Soewandi Soeryaningrat atau biasa dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Beliau mendirikan Taman Siswa bertujuan untuk pendidikan pemuda Indonesia dan juga sebagai alat perjuangan bagi rakyat Indonesia. Tujuan Taman Siswa adalah membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir bathin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mendiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya. Meskipun dengan susunan kalimat yang berbeda namun tujuan pendidikan Taman Siswa ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.
Ki Hajar Dewantara pada awal kemerdekaan RI menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Tugas guru memang tak ringan, apalagi di zaman modern saat ini, mendidik dan mengajar menjadi tugas pokok seorang guru. Masyarakat pun paham “Guru juga Manusia” pasti ada kekurangan dan kelemahan. Jadi guru tetap harus percaya diri, disegani, disenangi, dihormati khususnya oleh anak didik, umumnya oleh masyarakat. Seorang guru adalah pahlawan bangsa, menjadikan bangsa Indonesia yang beriman dan cerdas, untuk bisa berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa di dunia. Dengan Ideologi Pancasila. MERDEKA ! ***