Parigi, (harapanrakyat.com),- Bulan Muharam bagi warga pesisir pantai selatan, identik dengan pagelaran hajat laut. Hal tersebut terjadi hanya satu kali dalam setahun. Puluhan nelayan yang berada di Pantai Bojongsalawe, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, sudah menjadi tradisi tahunan menggelar ritual syukuran hajat laut.
Puluhan nelayan yang ada di Kecamatan Parigi, jauh hari sebelumnya sudah bersiap-siap untuk mengelar hajat laut ini. Sebelum hajat laut digelar, terlebih dulu diawali dengan menggelar upacara adat, dipimpin oleh sesepuh nelayan setempat. Dengan penuh hikmat, sesepuh nelayan pun memanjatkan doa-doa kepada sang pencipta alam semesta.
Sesepuh nelayan, Maman Firman, Minggu (10/11), mengatakan, usai mengelar doa dan upacara adat, puluhan nelayan dan warga, bersama Pj. Bupati Pangandaran mengarak dongdang saji untuk dibawa ke tengah laut. Arak-arakan dongdang saji ini sejauh 1 kilo meter menuju ke laut. Dongdang yang berisikan sesaji menandakan rasa syukur para nelayan kepada sang maha pencipta alam.
Puluhan perahu nelayan yang dihias dengan berbagai ornamen, kata Maman, mengantarkan larung sesaji ke tengah laut, sekitar 5 kilo dari bibir pantai. Dongdang larung sesaji pun dilepas di tengah laut. Saat dongdang larung saji ditaburkan di tengah laut, para nelayan disibukan mengambil air laut dari dalam larung sesaji.
Kemudian air laut tersebut disiramkan ke perahu masing masing. Menurut nelayan, bahwa air laut yang diambil dekat sesaji akan membawa berkah tersendiri bagi para nelayan. Selain itu, para nelayan juga melakukan perang air dengan sesama nelayan lainnya.
“Ini merupakan bentuk syukuran para nelayan yang ada di Parigi. Dan untuk tambur dongdang, merupakan simbol rasa syukur para nelayan kepada sang maha kuasa,” ungkap Maman.
Sementara itu, usai melaksanakan larung saji atau hajat laut, para nelayan mengelar hiburan rakyat, berupa hiburan seni dan budaya tradisional. (Entang/R4/HR-Online)