Cipaku, (harapanrakyat.com),- Pengelolaan bantuan ternak domba di Kelompok Tani Sukatani 1 Dusun Sukadana Desa Sukawening Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, disinyalir kurang transparan (terbuka). Pasalnya, hal itu terlihat dari kurangnya komunikasi antara sesama anggota kelompok. Kondisi itu terlihat setelah adanya kematian beberapa domba milik kelompok.
Ketua Koptan Suaktani 1, Kiman, Sabtu (31/8), mengatakan, bantuan domba yang diterima kelompok berjumlah 20 ekor. Dari jumlah itu, 8 ekor diantaranya mati mendadak. Sisanya 12 ekor yang disebar kepada semua anggota.
Sementara itu, Rosid, Bendahara Koptan, menjelaskan, domba yang mati hanya 4 ekor. Itupun sudah mendapat penggantian, sehingga jumlahnya tetap. Bahkan menurut dia, domba itu tidak semua disebar ke anggota, bahkan bukan anggota pun kebagian jatah.
Rosid berharap, semestinya segala sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan kelompok, jajaran pengurus maupun anggota bisa bekerjasama. Terlebih ada keterbukaan, sebab maju mundurnya kelompok tergantung dari kerjasama para anggotanya.
Ironis memang, kata Rosid, bendahara tidak diberitahu tentang beberapa hal, terlebih menyangkut masalah keuangan. Salah satu contoh, domba yang dijual oleh anggota, uangnya sampai sekarang entah kemana.
“Padahalkan harusnya uang itu dikembalikan dulu ke kelompok atau bendahara,” katanaya.
Sementara itu, Irpan, Sekretaris koptan Sukatani, mengatakan, jumlah domba yang mati ada 10 ekor. Kemudian mendapat penggantian dari pihak ketiga sebanyak dua ekor. Sementara delapan ekor yang lainnya tidak ada laporan.
Di tempat terpisah, Ewo, Pegawai BP3K Kecamatan Cipaku, mengatakan, koptan Sukatani memang kerap melakukan kordinasi. Hanya saja, kordinasi itu sebatas pada pengajuan proposal bantuan semata.
“Seharusnya tidak seperti itu. Bila ada permasalahan, kelompok alangkah baiknya memberikan laporan agar masalah itu bisa diselesaikan. Terlebih di Desa Sukawening belum ada PPL,” katanya.
Terkait masalah kematian sejumlah ternak domba, Ewo menilai hal itu tidaklah rasional. Menurut dia, seandainya yang mati hanya dua ekor, yang delapan ekor lainnya pun harus jelas laporannya. Soalnya, nanti semua itu akan berkaitan dengan pertanggung jawaban kelompok. (dji/Koran-HR)