Foto Ilustrasi
Banjar, (harapanrakyat.com),-
Dua hari belakangan ini, sejumlah pedagang gorengan, siomay, mie ayam dan lainnya di bilangan alun-alun Langensari, mengeluhkan kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram. Kalaupun ada, harganya cukup mahal, bahkan tembus hingga Rp 25 ribu. Akibat kondisi itu, pedagang terpaksa menaikkan harga jualan mereka.
Gepeng, pedagang Mie Ayam, Senin (12/8), membenarkan kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram di wilayah Langensari. Tapi beruntung, sebelum kelangkaan terjadi, dia keburu menyediakan stok gas sebanyak tujuh tabung.
“Untung punya stok di rumah. Gas sekarang sedang langka. Bahkan kemarin saya dengar dari sesama pedagang mereka beli gas 3 kilogram seharga Rp. 20 ribu. Bahkan ada yang sampai 25 ribu,” ungkapnya.
Menindaklanjuti kelangkaan tersebut, Gepeng juga menaikkan harga Mie Ayam dari Rp 6 ribu menjadi Rp 7 ribu per satu porsinya. Soalnya, bila harganya tidak dinaikkan, dia khawatir ongkos operasional dan produksi tidak tertutupi.
Senada dengan itu, Pedagang Siomay yang enggan disebutkan namanya, menyebutkan, dia terpaksa membeli gas seharga Rp. 25 ribu. Dia pun mengaku terpaksa menaikkan harga Siomay dari Rp 6 ribu menjadi Rp. 8 ribu perporsi.
Dia menduga, ada pihak-pihak yang memainkan situasi pasca lebaran, dengan menimbun gas elpiji ukuran 3 kilogram. Tentunya, kejadian itu sangat dia sayangkan. Banyak diantara pedagang dan warga menjadi kesulitan mencari gas elpiji.
Sementara itu, Slamet, penjual gorengan, menuturkan, harga jual gorengan menjadi naik akibat kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram. Gorengan terpaksa dijual Rp 200 per tiga buah. Padahal sebelumnya, persatu buah gorengan dibandrol harga Rp. 500.
“Kami para pedagang berharap, kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram segera ditangani,” pungkasnya. (deni/Koran-HR)