Kehadiran sejumlah minimarket atau swalayan di wilayah Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, membawa dampak positif dan negatif. Dari sisi positif, pengembangan wilayah dengan memajukan sistem perdagangan tradisional ke modern bisa tercipta. Namun, dari sisi negatif, pedagang di bilangan Pasar Galuh Kawali lemah dalam persaingan bisnis, omzet para pedagang tertekan.
Lili Komara, pedagang pakaian, di Blok D Pasar Galuh Kawali, Senin (1/7), mengaku, omset penjualan pedagang pakaian menurun dastis setelah sejumlah minimarket/swalayan bermunculan di Kawali.
Menurut Lili, imbas dari kehadiran minimarket/swalayan sudah mulai mengancam nasib para pedagang. Dia mensinyalir, faktor jarak antara pasar dan swalayan yang terbilang dekat, menjadi penyebabnya.
“Terlebih, fasilitas dan infrastruktur yang tersedia di minimarket/swalayan, cukup membuat para pengunjung (konsumen) merasa nyaman dan aman,” ungkapnya.
Di tempat terpisah, Endi, pedagang kelontongan, mengatakan, kehadiran minimarket atau swalayan di Kawali, tidak terlalu berpengaruh besar terhadap usahanya. Meski begitu, dia tetap berharap, keluhan pedagang pasar Kawali yang lainnya mendapat jalan keluar (solusi).
“Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan, berkaitan dengan keberadaan pasar modern, kemudian membuat konsep manajemen untuk memparbaiki pasar,” katanya.
Menurut Endi, hal itu bisa dilakukan melalui upaya peningkatan keunggulan Pasar Galuh Kawali. Tujuannya, menjadikan pasar tersebut sebagai pusat kegiatan ekonomi bagi masyarakat luas.
Lebih jelasnya, imbuh Endi, pemerintah perlu melakukan pemberdayaan pasar agar menjadi pusat ekonomi yang dibutuhkan masyarakat. Diantaranya dengan menerapkan teknologi, serta menciptakan kebersihan dan keamanan di Pasar galuh Kawali
“Dan semua itu harus tanpa membebani pedagang dengan biya renovasi kios yang mahal,” katanya.
Jangan lupa, pasar Galuh Kawali pemiliknya Pemda Kabupaten Ciamis perlu ada renovasi pasar tradisional untuk mengimbangi munculnya swalayan dengan tampilan modern. Pemda Ciamis harus membuat persaingan sehat, dengan merenovasi pasar tradisional tentu saja pendapatan asli daerah (PAD) akan lebih besar dibanding sekarang bila pasarnya tak kumuh dan buruk rupa.
Perlu menciptakan estetika kota. Grand ekonomi baru, dan laju pertumbuhan ekonomi, Kawali akan menjadi kota baru di wilayah utara Ciamis.
Dengan itu Kecamatan Kawali akan menjadi magnit center, kecamatan Panawangan, yang selama itu masyarakat Panawangan, lebih suka berbelanja kebutuhan pokok ke Cikijing Kab Majelangka. Sudah jelas Kec. Jati, Kec. Rajadesa, Kec. Cipaku dan Kec. Lumbung untuk berbelanja kebutuhan pokoknya lebih dekat ke Kawali. Berarti tak perlu datang berbelanja ke tempat yang jauh seperti ke kota Ciamis dan Tasikmalaya.
Kepala UPTD Pasar Galuh Kawali, Subekti, melalui telepon genggamnya, Senin (1/7), membenarkan perlunya kebijakan dari pemerintah untuk menciptakan lingkungan pasar yang lebih baik dan nyaman.
Menurut Subekti, kebijakan pemerintah tersebut dapat membantu peningkatan daya saing Pasar Galuh Kawali dengan pasar modern yang saat ini sudah merebak disana. Dia juga menyebutkan, perbaikan infrastruktur, jaminan kebersihan, penerangan, dan pembenahan terminal harus diprioritaskan oleh pemerintah. (Koran-HR)